Allah Maha Pemurah

Panen Amal

Di Kuliah 22, dikupas tentang poin-poin keburukan kita. Yang dengannya saya ingin membuka mata, jika ada seseorang berdoa dan beramal, lalu belum kunjung selesai juga masalahnya, please, jangan cepat-cepat putus asa. Lihat-lihat juga kelakuan kita sebelum mengambil jalannya orang-orang yang baik. Apabila ternyata kita-kita ini termasuk orang yang rajin mengumpulkan poin keburukan, alias senang melakukan maksiat, keburukan dan dosa, maka ya banyak-banyak bersyukur saja kepada Allah. Kenapa mesti banyak bersyukur? Ya, sebab dipanjangkannya umur kita saja , sudah merupakan karunia dari Allah. Dengan itu, kita bisa memperbaharui iman kita, bisa bertaubat, bisa kemudian mengejar ketertinggalan kita. Dan karunia bisa bertaubat sendiri adalah satu karunia yang masya Allah, mahal sekali. Teramat mahal malah. Banyak orang yang tiada sempat bertaubat, tapi kita diberi-Nya kesempatan bertaubat. Dan tiada yang bertaubat kecuali itu adalah untuk kebaikannya sendiri.


“… Wa man tazakkaa fainnamaa yatazakkaa linafsihi. Wa ilallaahil mashiir, Dan barangsiapa yang menyucikan diri, sesungguhnya ia menyucikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah lah tempat kembali”. (Qs. Faathir: 18).

“Fa-almahaa fujuuraha wataqwaahaa. Qad aflaha man zakkaahaa wa qad khaabamandassaahaa, Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketaqwaan. Sungguh beruntung orang yang membersihkannya dan sungguh merugi orang mengotorinya”. (Qs. asy Syams: 8-10).


Dalam satu dua masa libur yang saya tambah panjangkan masa liburnya nih KuliahOnline, saya meminta kepada semua Peserta KuliahOnline untuk menjelajahi kolom-kolom lain di Wisatahati.com. Ada saya suruh peserta untuk membuka artikel-artikel lepas dan kolom-kolom sms jamaah. Antara lain maksudnya untuk melihat-lihat yang sekorelasi dengan kuliah kita ini.

Di antara sekian banyak artikel saya, saya meng-upload sms-sms dari jamaah berikut jawaban saya. Tentu saja nama dan nomornya udah saya samarkan. Di antara sms itu ada yang bertanya, mengapa saya koq sudah 5 tahun terakhir ini berikhtiar dengan jalan sedekah dan bangun malam, koq tetap tidak mendapatkan jodoh? Sebagiannya bertanya, mengapa begini begitu, seputar pengakuan sudah nge-track, ngebut, berbuat amal saleh tapi hajatnya belum juga terkabul; entah itu jodoh, atau hal-hal lainnya seperti hutang, rizki, pekerjaan, anak keturunan, dan lain-lain. Saya rata-rata menjawab dengan pertanyaan: Bagaimana masa lalunya? Apa yang terjadi hari ini, sangat terkait dengan kemaren. Ini bukan menghukum diri, ini untuk mengoreksi. Kita mencari tahu dengan cermin kejujuran diri, tapi justru agar kita termasuk orang-orang yang beruntung, yakni berkenan untuk menyucikan jiwa kita yang kotor. Ada yang menjawab sedang tidak bicara dengan ibunya, sebab satu dan dua hal. Ada yang mengatakan sebelumnya senang sekali berzina. Ada yang mengatakan udah kebanyakan makan uang haram. Ada yang mengatakan baru saja bertaubat dari judi dan meninggalkan shalat. Ya itu lah. Perlu banyak-banyak bersyukur. Karena Kemurahan Allah lah, kitakita ini masih diberi-Nya kesempatan umur panjang dan kesempatan bertaubat. Dua ini saja, rasanya lebih mahal dari apa yang menjadi hajat kita.

Berikut ini cuplikan artikel saya tentang apa yang perlu kita lakukan supaya Allah berkenan

“memangkas masa pemberlakuan hukuman/azab”:

Hendaknya kita meng-enolkan dulu semua perbuatan buruk kita dengan bertaubat. Menghentikan perbuatan buruk, judi misalnya, tidak serta merta dianggap bertaubat. Perlu ada pernyataan lisan dari kita. Pernyataan memohon ampun. Pernyataan permohonan maaf. Kita minta ampun sama Allah, minta maaf pada-Nya atas semua kesalahan-kesalahan kita.

Cara yang paling efektif di awal adalah shalat taubat. Shalatnya cukup 2 rakaat saja dengan bacaan bebas di setiap rakaatnya. Tapi, persiapkan diri yang betul, dengan benar-benar mendidik diri sebelum shalat, bahwa sebentar lagi kita akan menegakkan shalat dengan membawa dosa-dosa yang mau kita mintakan ampun kepada Allah. Allah sudah berjanji akan mengampuni kita bila kita mau datang kepada-Nya, bahkan Allah akan memberikan ampunan-Nya lebih banyak ketimbang dosa yang kita bawa kepada-Nya. Habis itu perbanyak shalat-shalat taubat di setiap kesempatan.

Di awal-awal saya dulu meniti jalan pertaubatan, malah saya usahakan di setiap shalat fardhu, saya menegakkan shalat taubat plus shalat hajat. Shalat taubat untuk masa lalu saya, shalat hajat untuk masa depan saya. Bahkan sekarang-sekarang ini, saya mulai galakkan lagi. Selain tentu saja sehat, sebab ada gerakan-gerakan shalat yang menyehatkan fisik, menegakkan shalat sunnah taubat dan hajat juga menjadi satu keberkahan tersendiri adanya. Begitu banyak fadhilah untuk masa lalu dan masa depan kita.

Kemudian setelah itu, kejar semua ketertinggalan kita dengan banyak-banyak istighfar, dan menghidupkan sunnah-sunnah semaksimal-maksimalnya kemampuan kita. Bukan seadanya loh ya. Semaksimalnya. Yang disebut ibadah sunnah itu; qabliyah ba’diyah, dhuha, tahajjud, witr, baca al Qur’an, shalat berjamaah, sedekah, dan menahan diri dari perbuatan-perbuatan buruk yang baru.

Demikian cuplikan artikel saya mudah-mudahan bermanfaat.

Terus motivasi diri kita. Allah itu Maha Pemurah. Untuk mengejar ketertinggalan kita, Allah sediakan ampunan dan jalan-jalan kebaikan yang luar biasa yang insya Allah menjadi enteng buat kita mengubur dosa-dosa kita, meng-enolkan maksiat kita, dan selanjutnya kita melaju bebas di jalan-jalan kebaikan.

Untuk lebih lengkapnya silahkan download versi cetaknya :
KDW0125 Seri 25 dari 41 seri/esai

Read More......

Pentingnya Ilmu dan Sholat

Bismillaahirrahmaanirrahiem
Assalamu'alaikum wrb.

Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha melihat apa-apa yang kamu kerjakan. ( Al Baqarah 110. )

Selama kita berpegang teguh kepada Al Qur'an dan sunnah Rasul Insya Allah kita semua bisa bahagia didunia dan diakhirat,Ust pernah bilang kenapa sih cari-cari kesalahan diluar padahal diri kita sendiri nggak diinteropeksi, kadang kita selalu merasa diri kita paling benar kok bisa begitu sih ?... karena kita selalu melihat ilmu yang dibawah , ah mereka belum bisa sholat ,ah mereka belum bisa apa yang kita bisa tentu ilmu kita segitu-gitu aja karena kita melihat yang dibawah, cobalah kita melihat yang diatas , waduh.. mereka udah bisa hafal yaasiin pokoknya saya harus bisa seperti mereka, wah... mereka udah bisa baca rawi 4 saya belum sama sekali pokoknya saya harus bisa seperti mereka (titik gak pake koma).


Kenapa sih sholat begitu penting ?.. karena itulah urat nadi kita, itulah kewajiban kita yang akan ada pertanggung jawaban dihadapan Allah SWT, kok mereka cuek-cuek aja ya..? karena mereka adalah orang-orang paling bodoh!! kok bisa gitu sih.., yang paling riil,yang pasti, yang akan terjadi kita semua pasti akan mati ! kita sudah tahu,sudah mengetahui eh.. masih cuek-cuek aja kan bodoh bener kita emangya duit yang triliunan bisa kita bawa mati kan kagak dibawa.emangnya klo bisa dibawa duit kita, laku diakhirat kan gak ada yang bisa ngejamin, trus yang laku duit apaan dong buat diakhirat, emangnya ada ?.... ada !! kalo kita udah tahu mooney changernya. kenegara lain aja rupiah kita aja harus ditukar dulu kalo diakhirat dimana tukarnya bang ?... tukarnya sama anak-anak yatim, sama masjid yang lagi dibangun , sama Ust Yusuf Mansur yang punya pesantern penghafal Al Qur'an dan masih banyak lagi mooney changer lainnya yang nggak bisa saya sebutin satu persatu tapi tidak mengurangi rasa hormat saya kepada beliau Kok jadi gak nyambung sih,,???!!!! he..he.. mangap eh maaf. intinya kita harus mengerti apa yang Allah inginkan bukan apa yang kita inginkan, Allah maha melihat apa-apa yang kita kerjakan semoga Allah melimpahkan rahmat dan karunianya kepada kita semua Al Fatihah...


Sekian dari saya kesempurnaan hanya milik Allah SWT saya mengingatkan khususnya untuk diri saya sendiri semoga bisa bermanfaat buat yang lainnya terima

Wassalamu'alaikum wrb

Read More......

Al Ghazali di Mata M. Natsir

Penulis: Adian Husaini

Mohammad Natsir (1908-1993) dikenal sebagai pejuang Islam Indonesia yang pada 2008 mendapat penghargaan sebagai Pahlawan Nasional. Natsir juga seorang pemikir dan pelopor pendidikan Islam. Tulisan-tulisannya yang dihimpun dalam buku Capita Selecta menunjukkan ketinggian keilmuan M. Natsir. Meskipun hanya mengenyam pendidikan formal setingkat AMS ( Algemene Middelbare School), setingkat SMA sekarang, tetapi Natsir memiliki kacintaan yang sangat tinggi dalam mencari ilmu.

Tumbuh dalam asuhan pendidikan keagamaan oleh A. Hassan, seorang tokoh modernis, Natsir mampu mengembangkan pemikirannya jauh melampui lingkungan pendidikan formalnya. Pada sekitar tahun 1930-an, dalam usia sekitar tiga puluhan, Natsir telah aktif menulis tentang berbagai persoalan keilmuan dan terlibat dalam perdebatan ilmiah dengan berbagai kalangan. Melalui tulisan-tulisannya, ketika itu, tampak Natsir sudah membaca berbagai literatur tentang aqidah, sejarah, ilmu kalam, tasawuf, filsafat, syariah, perbandingan agama, dan sebagainya. Hampir dalam setiap tulisannya, Natsir mampu meramu dengan baik, sumber-sumber dari kalangan Muslim maupun karya-karya orientalis Barat. Ambillah satu contoh sebuah artikel berjudul ”Muhammad al-Ghazali (450-505 H, 1058-1111)”, yang dimuat di majalah Pedoman Masyarakat, April 1937.

Dalam artikel ini, Natsir memaparkan keagungan pemikiran dan kiprah al-Ghazali dibandingkan dengan prestasi ilmuwanilmuwan Barat. Kitab Maqashidul Falasifahnya al-Ghazali, misalnya, sudah diterjemahkan oleh Dominicus Gundisalvus ke bahasa Latin pada abad ke-12 M. Di sini, Natsir juga menguraikan teori kausalitas al-Ghazali yang mendahului teori David Hume (1711-1776) tujuh ratus tahun sebelumnya. Natsir membantah bahwa David Hume lah sarjana pertama yang mengungkap teori kausalitas ( causaliteitleer). Natsir tidak menolak jasa David Hume dalam soal ini. Tetapi, tulisnya, ”jangan dilupakan, bahwa 700 tahun sebelum David Hume, telah pernah seorang filosof Muslim di daerah Timur yang mengupas masalah ini dalam Kitabnya, Tahafutul Falasifah.”

Setelah mengupas sedikit teori kausalitas al-Ghazali, Natsir mengingatkan: ”Aneh! Hal ini rupanya tidak hendak diingat orang. Dan kalau kita ketahui bahwa seorang filosof Barat sebagai Immanuel Kant mengakui, bahwa David Hume-lah yang membukakan matanya, dapatlah kita mengira-ngirakan betapa besar kadarnya kekuatan ruhani Ghazali dibandingkan dengan filosof-filosof yang masyhur di Barat itu.”

Kemudian, secara khusus, Natsir memberi komentar terhadap pemikiran al-Ghazali: ”Kalau Imam Ghazali oleh karena ini tidak dinamakan seorang filosof-’aqli, maka itu tidak berarti bahwa akalnya kurang dipakai dibandingkan dengan filosof yang lain-lain. Tak kurang Al-Ghazali mengupas falsafah Socrates, Aristoteles dan memperbincangkan pelbagai masalah yang sulit-sulit dengan cara yang halus dan tajam sekali dalam kitabnya yang tersebut di atas. Tak kurang ia membentangkan ilmu mantik dan tak kurang pula menyusun ilmu-ilmu yang tahan uji dibandingkan dengan karangankarangan filosof yang lain. Semua ini menunjukkan ketajaman akalnya dan memakai akal itu sebagai salah satu nikmat yang dikurniakan Allah kepada manusia. Tapi dalam pada itu ia tidak hendak lupa, bahwa akal ini pun dapat bekerja hanya sampai kepada suatu batas yang tak dapat dilampaui. Apabila filosof yang lain masih terus juga menurunkan akal itu ke mana-mana, di bawa oleh akal itu sendiri, walaupun sudah bukan medan pekerjaannya lagi, serta menjadikan akal sebagai hakim yang menghabiskan dalam semua hal —, pada saat yang demikian itu Imam Ghazali tidak enggan berkata dengan khusyu’ ”wallahu a’lam!” – ”Allah yang lebih mengetahui!” dan kembali kepada Kitab (Al-Quran), Yang tak syak lagi menjadi petunjuk bagu mereka yang takwa.”

Melalui artikel yang pendek tersebut, Natsir menguraikan jasa-jasa besar al-Ghazali bagi umat Islam, disamping juga kontroversi terhadap pemikirannya dan apresiasi para ilmuwan Barat terhadapnya. Terhadap kontroversi terhadap pemikiran al-Ghazali, Natsir menulis, bahwa itu: ”... ialah suatu hal yang galib diterima oleh setiap orang yang berjalan di muka bumi merintis jalan baru, yang mendengarkan suara keyakinan yang teguh yang berbisik di dalam hati, dan tidak hendak turut-turut ke hilir ke udik, seperti pucuk aru dihembus angin.”

Penguasaan Natsir terhadap pemikiranpemikiran para pemikir Muslim klasik bisa dilihat dalam berbagai artikelnya dalam buku Capita Selecta yang mengupas sosok dan pemikiran Ibnu Thufail, Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih, Abu Nasr Al-Farabi, Ikhwan as-Shafa, juga kupasannya tentang aliran Mutazailah dan Ahli Sunnah. Meskipun sangat memahami seluk beluk peradaban Barat, melalui berbagai tulisannya yang mengupas keagungan sejarah peradaban dan pemikir Muslim, Natsir menyampaikan pesan yang jelas kepada kaum Muslim: Jangan merasa rendah diri melihat kehebatan peradaban Barat!

Read More......

Masa Depan Islam di Wondama di Ujung Tanduk

Warga Muslim di dua Manokwari dan Wondama mengaku termarginalkan. Sejak mayoritas Kristen mendesak Manokwari sebagai kota Injil, keadaan mereka serasa di ujung tanduk

Dua kabupaten, Wanokwari dan Wondama, di Papua Barat terus menggeliat. Kedua kota yang terletak di Papua Barat ini seolah terus menunjukkan eksistensinya sebagai kota “Kristen”. Seperti diketahui, sejak lama, mayoritas Kristen di sana mendesak agar Manokwari dijuluki kota Injil.

Namun, hingga kini, rencana itu masih terus digodok di DPRD setempat. Walau belum tentu goal di tingkat pusat, melihat komposisi anggota di dewan rencana ini sebagai sesuatu yang memungkinkan. Sebagaimana diketahui, dari 27 anggota dewan, hanya dua yang Muslim.

Beberapa aktivis Muslim mengaku sudah mulai merasa kesulitan. Seorang aktivis Muslim, Said Ahmad, di Papua Barat mengaku, ia sering diingatkan tentang pemasangan simbol-simbol Islam. Tahun 2009, ketika ia akan mendirikan sebuah pesantren di Wondama, masyarakat Kristen melarang. Padahal, pendiriannya akan diresmikan oleh Bupati. Namun, atas desakan masyarakat Kristen, pendirian itu akhirnya gagal.

Maklum, muslim di sana hanya berjumlah sekitar 10 persen saja,” ujarnya kepada www.hidayatullah.com.

Kondisi ini membuat kalangan Muslim tak bisa leluasa berdakwah. Menurutnya, kini, dakwah di Wondama hanya bisa dilakukan dengan hal-hal biasa. Misalnya halaqah atau ceramah di rumah. Ia juga mengaku khawatir, jika rencana Manokwari sebagai Kota Injil yang telah direncanakan lama itu akhirnya akan goal di parlemen. [ans/www.hidayatullah.com]

Read More......

PBNU: Idul Adha Hampir Dipastikan Bersamaan

Data hisab almanak PBNU yang disusul oleh Lajnah Falakiyah menunjukkan ijtima’ awal bulan atau konjungsi akan jatuh pada 17 November pukul 02.13.57 WIB

Hidayatullah.com--Hari raya Idul Adha 1430 H di Indonesia tahun ini hampir dipastikan bersamaan. Berdasarkan data hisab beberapa ormas Islam dan Departemen Agama, awal Dzulhijjah diperkirakan akan jatuh pada 18 November sehingga hari raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1430 H akan jatuh pada 27 November 2009.

Sementara rukyatul hilal yang diadakan pada akhir Dzulqa’adah atau 17 November hampir dipastikan akan berhasil karena posisi hilal diyatakan sudah sangat mungkin untuk dirukyat, sehingga keesokan harinya sudah bisa dinyatakan sebagai awal bulan baru.

Data hisab dalam almanak PBNU yang disusul oleh Lajnah Falakiyah menunjukkan ijtima’ awal bulan atau konjungsi akan jatuh pada 17 November pukul 02.13.57 WIB. Sementara hilal pada saat Matahari terbenam pada hari itu atau akhir bulan Dzulqo’dah sudah mencapai ketinggian 4,48 derajat dan lama di atas ufuk mencapai 27 menit 40 detik.

Berdasarkan data itu maka awal Dzulhijjah diperkirakan akan jatuh pada 18 November 2009 karena hilal akan mudah dirukyat.

Lajnah Falakiyah NU sendiri akan mengkoordinir pelaksanaan rukyat pada akhir bulan Dzulqa’dah di sedikitnya 75 titik rukyat seluruh Indonesia. Jika salah satu dari titik rukyat telah berhasil melihat hilal maka rukyat dinyatakan berhasil.

”Mudah mudahan ada yang berhasil. Ya kita lihat saja nanti mengingat sekarang musim hujan dan banyak daerah yang mendung,” kata anggota Litbang Pengurus Pusat Lajnah Falakiyah PBNU dikutip NU Online, Jum'at (13/11).

Hendro sendiri akan mengordinir pelaksanaan rukyat awal Dzulhijjah di Pelabuhan Ratu Jawa Barat. Pelabuhan Ratu menjadi salah penentu awal Syawal kemarin dalam sidang itsbat Departemen Agama karena para perukyat NU berhasil menyaksikan hilal di tempat ini. [nurid/www.hidayatullah.com]


Read More......

Copyright © 2009 - Nursani Site- is proudly powered by Blogger
Converter: Blog and Web | Tweaked and Widgetized by :Blogger Templates