Sunday, November 29, 2009

Bintang – We Are Not Game Over Yet

Jalan hidup itu Allah yang punya. Kita hanya bisa meniti, tapi tidak bisa mengatur. Kita hanya bisa meminta, tapi kita tidak bisa memaksa. Tapi, dengan hanya menyisakan semangat, percaya semua kejadian ini ada Allah di baliknya, percaya bahwa Allah akan mengatur yang terbaik, percaya bahwa Kehendak Allah itu pasti baik adanya, kemudian mau menerima hidup ini seadanya keadaan, dan berkenan memperbaiki diri, insya Allah segalanya berjalan sangat baik. Bahkan kita akan melihat, kehidupan di kemudian hari adalah kemenangan buat yang percaya bahwa memang kehidupan ini milik Allah. Berbaik-baik saja dengan-Nya, dan mulailah mendekatkan diri pada-Nya.


Yth., semua Peserta KuliahOnline, tertanggal hari ini, 29 Oktober 2008, saya akan mengikuti ujian kompre dan ujian baca kitab al Mahalli. Ini saya ikuti sebagai syarat kelengkapan kelulusan meraih gelar sarjana satu (S1) di UIN.

Semalam saya berhadapan dengan buku-buku yang sebisa mungkin saya baca untuk tambahan persiapan ujian-ujian pagi ini. Kitab Hasyiataani, atau yang lebih dikenal dengan al Mahalli (Kitab
Fiqh), pun saya usahakan baca, khususnya bab-bab yang akan diujikan.

Dalam pada itu, pikiran saya juga tertuju pada saudara-saudara semua: Peserta KuliahOnline. Saya tidak mau libur lagi, he he he. Kecuali memang ketika saya memang sengaja men-jeda. Seperti beberapa waktu yang lalu, saya jeda dengan meminta semua peserta melihat-lihat kolom-kolom lain di Wisatahti.com. Saya menjeda perkuliahan, untuk memberi kesempatan dan mendorong saudara peserta semua untuk menjelajahi isi web. Khususnya kolom interaksi sms dan artikel lepas.

Jadi, semalam, ketika saya selesai menelaah buku dan kitab yang akan diujikan, saya mencoba berakrab-akrab dengan komputer. Tapi masya Allah, di pondok ada sedikit masalah. Masalah rumah pembina, rumah asaatidz.

Pesantren menyewa satu rumah yang cukup besar, untuk dijadikan rumah-rumah tempat tinggal para ustadznya. Disewalah ini rumah selama 3 tahun. Tahu-tahu, belum lagi genap setengah tahun rumah ini disewa, sudah ada yang mendatangi untuk dikosongkan. Sebab katanya udah dijual.

Kebetulan saya sedang belajar Hukum Perikatan. Belajar tentang Akad. Belajar tentang Bisnis Islami. Lumayan terasa ilmu ini hidupnya di masyarakat.

Perbuatan si pemilik rumah, tentu saja tidak bisa dibenarkan. Namun, getaran hati mengatakan, mesti ada apa-apa nih. Maksud saya, mesti si pemilik rumah sedang mengalami satu dua hal peristiwa besar atau kesulitan dalam hidupnya, sehingga ia menempuh jalan ini.

Wise, atau kebijakan, atau kebijaksanaan, juga adalah sesuatu yang diperlukan dalam hidup ini, juga di dalam urusan hukum. Mirip seperti ‘Umar bin Khattab yang melepas seorang pencuri sebab karena lapar, dan si pencuri berjanji akan bertaubat.

Saya panggillah si pemilik rumah. Kebetulan, rumah dia pribadi, saya beli. Juga buat pembina/asaatidz. Jadi, rumah ini ada dua. Satu, rumah yang saya beli, dan satu yang saya kontrak. Di dalam rumah pribadi dia pun (yang saya beli), ada bagian rumah yang dikontrakkan. Tapi seingat saya, saya mengajak ngobrol si pengontrak ini, bersama-sama pemilik awalnya. Saya beritahu bahwa rumah ini sudah dibeli, dan saya persilahkan orang tersebut meneruskan sewanya sampe tahun yang sudah ia bayar. Selanjutnya, urusannya ke saya (ke pesantren). Dan saya pun menyatakan akan memberi kesempatan untuk terus melanjutkan sewaannya itu kalo dia suka, kalo dia betah. Ternyata si penyewa ini sudah sewa selama dua tahun. Dia tidak keberatan keluar, asal diganti utuh uang sewanya. Alhamdulillah, ada mufakat. Pesantren mengembalikan uang sewanya itu, tanpa memotong biaya beli rumah itu.

Begitulah keagungan Islam. Mengatur kehidupan ini dengan lembut. Di dalam hukum tunangan saja,
jika kita tahu seorang perempuan sudah dilamar, tidak boleh kita melamarnya dan tidak boleh si
perempuan (atau keluarga perempuan) menerima lamaran orang lain. Sampe clear segala urusan. Sampe segitunya Islam mengatur. Maka kemudian, ketika muncul masalah di rumah yang satunya lagi, rumah kontrakan yang dikontrak (bukan yang dibeli), saya berinisiatif memanggil semuanya.

Alhamdulillah, selesai. Tapi jadinya, saya tidak jadi lagi megang komputer, he he he.


Untuk lebih lengkapnya silahkan download versi cetaknya :
KDW0126 Seri 26 dari 41 seri/esai


Load disqus comments

0 komentar