Tuesday, November 10, 2009

Jadi Ikhlas Ngejalanin Hidup

Jadi ikhlas Ngejalanin Hidup

Di tengah kesulitan kita, selalu terselip Pertolongan Allah. Di tengah kesulitan kita, selalu terselip Kemurahan Allah. Dan bila kitab sepakat, insya Allah bahkan kesulitan itulah anugerah Allah buat kita semua. Perjalanan waktu akan membuktikan itu. Andai kita lalui semua ragam kesulitan itu bersama Allah.

Saya termasuk yang percaya sedari awal, bahwa kalau kita mau berpikir tentang Kemurahan Allah, maka bener-bener Allah itu Maha Pemurah. Di tengah kesulitan kita, selalu terselip Pertolongan-Nya dan Kemurahan-Nya.

Sedikit berbagi. Ketika saya berada di pusaran kesulitan, Allah menganugerahkan saya kemampuan untuk menggoretkan ceritera kesulitan itu. Subhaanallaah, ia kemudian menjadi salah satu cahya bagi kehidupan saya. Saya akhirnya bisa menulis, dan tulisan itu pun akhirnya menjadi buku. Terbit dengan judul: Wisatahati Mencari Tuhan Yang Hilang. Agaknya, andai saya tidak mengalami kesusahan hidup, niscaya buku ini tidak lahir. Ketika itu saya merasa putus asa. Saya butuh teman.

Akhirnya saya ambil pena dan kertas. Benar-benar pena dan kertas. Oldies banget. Sebab emang ga ada fasilitas. Saat itu saya terpenjara dengan sel dunia. Ruang seukuran kurang lebih 2x3 menjadi kamar saya yang bagus untuk banyak merenung dan menulis hasil perenungan. Semula ia sebagai kawan saya. Akhirnya ia menjadi kawan banyak orang setelah jadi sebuah buku. Kebiasaan menulis ini di kemudian hari yang mengantarkan saya menulis buku-buku yang lainnya (lihat galeri, web admin). Hingga kemudian saya bisa menulis KuliahOnline ini.

Dan kebiasaan menulis ini bukan satu-satunya anugerah Allah yang Allah berikan bersama kesulitan. Sekali lagi, kalimat yang saya garis bawahi, dilihat ulang, dibaca ulang. Saya mengatakan “bersama kesulitan”, sebab memang nyatanya gara-gara mata kita yang butalah yang tidak bisa melihat Karunia Allah. Semua adalah Kehendak-Nya. Dan tidak ada Kehendak-Nya kecuali kehendak itu adalah kehendak yang baik-baik. Tidak pernah kehendak itu menjadi buruk hingga kemudian kita yang mewujudkannya menjadi buruk. Tidak pernah. Maka nya ketika di kemudian waktu saya menyadari bahwa akhirnya kesulitan itu mengantarkan saya menjadi “bisa menulis”, inilah yang saya anggap anugerah itu. Anugerah yang Allah berikan bersamaan datangnya dengan kesulitan yang Dia izinkan mampir di kehidupan saya. Saya percaya, peserta KuliahOnline juga banyak yang mengalami anugerah-anugerah seperti ini. Kesulitan akhirnya menjadi rahmat.

Disebut bukan satu-satunya, sebab buanyak sekali. Saya bisa sebut beberapa, sekedar untuk tahadduts bin-ni’mah: Buku-buku saya membawa saya menjadi ustadz. Berawal dari orang-orang meminta saya bercerita isi buku (bedah buku), dan pengajian-pengajian kecil, akhirnya kemudian orang-orang mengenal saya sebagai ustadz. Sebagai da’i. Saya pun mencatat bahwa sejarah saya menghafal alQur’an adalah sebab saya terpenjara. Rasanya, kalo saya tidak dipenjara, tidak akan ada itu cerita menghafalkan al Qur’an. Dan di kemudian hari, lahirlah Daarul Qur’an dan PPPA Daarul Qur’an. Daarul Qur’an adalah sebuah nama yang saya berikan untuk institusi pesantren penghafal al Qur’an.

Dan PPPA adalah suatu program donasi untuk pembibitan penghafal al Qur’an. Dan tentu saja beragam nikmat lain yang sangat-sangat tidak bisa saya sebut satu per satu; Saya menikah, dan ketemu dengan Maemunah, pun sebab berkah berada di dalam kesulitan. Ah, rasanya, tidak pantas saya menjadi yang tidak bersyukur.

Bila ada yang mengatakan, ah, itu kan si Yusuf Mansur. Pantes aja. Sebab dia kan pinter. Dia kan
‘alim. Dia kan turunan guru (sebutan untuk seorang Kyai, web admin). Dia kan lahir dan besar di
madrasah. Bisa ya, bisa tidak. Dikatakan ya, sebab saya juga menganalisis bahwa banyak piutang orang-orang tua saya, keluarga saya, guru-guru saya, di diri saya. Mereka rajin dan tulus mendoakan saya. Mereka insya Allah penuh mengharap saya selamat dan bisa menyelesaikan semua urusan-urusan saya, menjadi saleh, dan bisa dibanggakan keluarga. Dikatakan juga ya, bahwa keluarga dan turunan bisa berpengaruh, sebab amal ibadah yang dilakukan oleh orang-orang tua kita, dan saudara-saudara kita, khususnya yang serumah, memang insya Allah bisa ter-share itu cahya amal ibadahnya ke saya. Sebagaimana saya pernah sampaikan, bahwa kadang ada seorang anak yang dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan. Padahal selama kuliah, ia tiada menegakkan shalat. Ternyata, pertimbangan Allah, adalah ibadah ayah ibunya. Barangkali ini anak menyimpan sepasang orang tua yang masya Allah, rajin benar mendoakan anaknya ini. Maka kemudian turunlah Keputusan Allah, bahwa anak ini mendapatkan pekerjaan. Tapi bukan karena dirinya, melainkan karena doa ayah ibunya. Atau ada seorang suami yang banyak benar maksiatnya. Tapi kemudian ia tetap banyak mendapatkan berkah Allah. Ternyata si suami ini menyimpan istri yang sering merintih di hadapan Tuhannya, berdoa dengan tulus agar Allah jangan menghukum suaminya, dan menyayangi suaminya. Allah barangkali berkenan menjabah doa-doa yang begini ini.

Maka itu saya katakan, saya tidak menafikan peran “nasab”. Peran turunan. Tahadduts bin-ni’mah, saya lahir dari keturunan seorang kyai. Begitulah dongeng tentang Yusuf Mansur bermula. Menurut riwayat, ayah saya, Abdurrahman Mimbar, lahir dari garis seorang ulama di Kaliungu, KH. Zahid Mimbar, dan berlatar belakang keluarga pesantren. Satu tahun yang lalu saya pernah berkunjung ke keluarga pesantren Kaliungu. Ada pesantren besar, salaf, PIK namanya di sana. Masya Allah, ribuan santrinya. Dari garis ibu, pun lahir dari garis keturunan KHM. Mansur. Seorang ulama betawi tempo doeloe. Namanya dijadikan nama jalan sepanjang jalan Jembatan Lima, membentang di antara Roxy mengarah ke Stasiun Beos, Kota. Sedari lahir, saya sudah berada di tengah-tengah madrasah terkenal di kalangan betawi; Madrasah al Mansuriyah, Jembatan Lima Jakarta Barat. Ayah kandung saya bercerai dengan ibu saya ketika saya masih di dalam kandungan.

Ketika saya lahir, saya diasuh oleh paman saya, KH. Sanusi Hasan. Seorang hafidz al Qur’an dan seorang penulis di berbagai majalah dan koran Islam saat itu. Beliau pegawai negeri (Depag) yang sangat-sangat jujur. Tercatat dua kali diamanahkan sebagai Pimpro Pengadaan al Qur’an dan ta’mir Masjid Istiqlal. Agaknya, perjalanan jalan hidup saya sekarang-sekarang ini banyak berpengaruh dari rizki halal yang saya makan dari beliau. Saya kemudian menjadi penghafal al Qur’an, banyak mengelola al Qur’an, senang di masjid, dan kemudian menjadi penulis. Banyak sifat-sifat beliau yang saya rasakan menurun ke saya. Di usia saya 5 tahun, ibu saya menikah lagi. Lagi-lagi dengan orang saleh nan penyabar. Ayah tiri saya, Hermawan, juga pegawai negeri yang teramat jujur dan penyabar. Sama seperti paman saya, ayah tiri saya hidup sangat-sangat sederhana. Alhamdulillah, saya dapat tambahan rizki dan pengasuhan dari kedua orang ini. Hidup saya lebih banyak dihabiskan di madrasah, di pengajian, dan di masjid. Kelak, saya merasakan keberkahan ini semua.

Tapi masya Allah. Di saat yang sama, saya pun mengaminkan, bahwa semua yang disebut di atas, percuma. Malah tambah memberatkan saya. cerita di atas, biar ditambah dengan satu fakta, bahwa saya pun mendapatkan didikan agama sampe perguruan tinggi, boleh dikata, agak-agak “gak laku” ketika dibenturkan dengan masalah-masalah saya. Dengan status saya sebagai keturunan orang baikbaik, dan malah keturunan ulama, malah membuat saya makin terpojok. Semakin orang sinis, semakin orang memandang rendah saya. “Ga pantes dia mah jadi keturunan orang baik-baik”. Wuah, begitu dah kurang lebihnya.

Untuk lebih lengkapnya silahkan download versi cetaknya :

KDW0124 Seri 24 dari 41 seri/esai

Load disqus comments

0 komentar