Tuesday, December 15, 2009

Bedah Buku Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi Islam

Penulis: Eko Heru Prayitno


Untuk ke sekian kalinya, buku terbaru Dr. Adian Husaini yang berjudul Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi Islam (Jakarta: GIP, 2009), dibedah dan didiskusikan.

Pada hari Ahad (13/12/2009), bedah buku dilakukan di Masjid Babussalam, Perumnas Klender, Jakarta Timur. Pada acara tersebut Dr. Adian langsung membedah bukunya sendiri. Acara dihadiri sekitar 100 peserta dari daerah sekitar masjid.

Dalam penjelasannya, Dr. Adian menyatakan, dia menulis buku dengan judul “agak provokatif” karena adanya sejumlah permintaan berbagai kalangan agar sedikit menurunkan bahasa ilmiahnya, ketika menulis buku tentang pemikiran Islam, sebagaimana ditulis dalam dua buku terdahulunya, yaitu buku Wajah Peradaban Barat dan buku Hegemoni Kristen dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi. Kedua buku tersebut memang mendapatkan penghargaan dalam acara Islamic Book Fair tahun 2006 dan tahun 2007 di Jakarta.

“Buku Virus ini Insyaallah lebih mudah dicerna, agar memudahkan pemahaman terhadap problem pemikiran dan studi Islam di Perguruan Tinggi Islam,” kata Adian, dalam acara yang dipandu oleh Dani Abdul Wahab dari Radio Dakta 107 FM.

Adian juga menjelaskan, ia tidak bermaksud menyudutkan Perguruan Tinggi Islam, tetapi membuka mata umat Islam, bahwa memang ada banyak dosen yang sekarang menyebarkan berbagai virus pemikiran yang sangat merusak pemikiran Islam, seperti Pluralisme Agama, penggunaan hermeneutika untuk penafsiran al-Quran, Dekonstruksi Syariah, dan sebagainya.

Kepada para hadirin, Adian memaparkan bukti-bukti berupa buku dan jurnal, yang terbit di lingkungan Perguruan Tinggi Islam, yang isinya sangat merusak bahkan secara terang-terangan menyerang Islam. “Anehnya, semua ini bisa dengan leluasa diterbitkan atas nama lembaga atau kampus,” kata Adian. Jadi, menurut Adian, meskipun pemikiran yang merusak itu diproduksi oleh sebagian akademisi, tetapi karena pimpinan kampusnya mendiamkan, sama saja dengan setuju dan mendukung pemikiran yang merusak tersebut. Ia menunjukkan, adanya sejumlah tesis dan disertasi yang diluluskan, padahal isinya merusak Islam. “Bahkan ada yang diberi penghargaan secara nasional,” katanya menunjukkan sebuah contoh tesis dari UIN Yogya.

Dalam acara tanya jawab, banyak jamaah masjid menanyakan, langkah-langkah apa yang telah dilakukan oleh umat Islam untuk membendung dan memberantas virus-virus liberalisme tersebut. Adian mengajak seluruh umat Islam secara serius menghadapi masalah ini. Ia menyebutkan bahwa Indonesia memang menjadi target liberalisasi Islam secara besar-besaran. “Ini proyek besar-besaran yang melibatkan dana yang sangat besar, sehingga godaan duniawi di sini tidak mudah untuk menolaknya,” ujarnya.

Seorang penanya, misalnya, menyebutkan, bahwa di instansinya tempat bekerja, program Kesetaraan Gender telah dijadikan program resmi pemerintah. Ia merasa kesulitan untuk membendung paham ini, karena kekurangan literatur. Kepada dia, Adian menganjurkan membaca buku karya Dr. Ratna Megawangi yang menunjukkan bagaimana hakekat dan bahaya paham Kesetaraan Gender yang direkayasa oleh negara-negara Barat.

Di era kebebasan informasi saat ini, menurut Adian, hampir tidak mungkin menghindarkan diri dari “virus pemikiran”. Bukan hanya dari dosen atau ruang kuliah, tetapi “virus-virus” itu sudah bebes beredar melalui buku-buku dan internet. “Karena itu yang harus dilakukan adalah melakukan “vaksinasi”, dengan memberikan pemahaman kepada umat Islam, dimana letak bahaya dan kekeliruan paham-paham tersebut,” kata Adian yang juga alumnus Fakultas Kedokteran Hewan IPB.

Menurut Adian, “vaksinasi” pemikiran tersebut kini sedang diprioritaskan khususnya terhadap pengurus dan jamaah masjid, para ustad pesantren, dosen-dosen perguruan tinggi, juga para santri yang akan lulus. Dengan vaksinasi itu, maka mereka akan kebal, dan mampu mengenali serta menjinakkan virus ganas yang menyerang mereka. “Para santri Insyaallah akan mampu mengenal dan menjawab pemikiran-pemikiran yang keliru, ketika mereka melanjutkan kuliah,” jelas Adian.

Ia juga menekankan, bahwa karena ini merupakan masalah pemikiran, maka harus dihadapi juga dengan gerakan pemikiran. Bahkan, ia menjelaskan, gerakan liberalisasi ini sudah berjalan secara sistematis selama 40 tahun lebih, sehingga memerlukan kesabaran dan kesungguhan. Adian juga mengaku sangat optimis, jika umat Islam Indonesia bersungguh-sungguh dalam membendung liberalisme, maka Indonesia akan menjadi contoh bagi dunia Islam lainnya. “Saya sangat optimis, Insyaallah – dengan pertolongan Allah -- jika kita bersungguh-sungguh dan bekerjasama, maka kita sanggup menghadapi tantangan tang sangat berat ini.

Acara bedah buku berlangsung selama dua jam lebih dan diakhiri dengan shalat dhuhur berjamaah. Masjid Babussalam Perumnas Klender adalah Mesjid yang dijadikan sebagai proyek Percontohan Perpustakaan Masjid di wilayah DKI Jakarta. Pengurus Masjid menjelaskan, bahwa koleksinya sudah mencapai 11.000 judul buku. Meskipun dalam keadaan yang serba terbatas, mesjid ini tetap bertahan menjalankan perpustakaan masjid, yang mestinya bisa dicontoh masjid-masjid lainnya. (***).
Load disqus comments

0 komentar