Saturday, December 26, 2009

Hadirkan Allah Dalam Kehidupan

Tidak sedikit manusia yang dis-orientasi dalam hidupnya. Kosong, kering, gersang. Tanpa makna. Karena hidup tanpa Allah.


Tulisan ke depan akan menyoroti bagaimana hidup dengan berpolakan tauhid. Termasuk perkara tauhid adalah menyandarkan semua urusan kepada Allah sahaja. Banyak orang berikhtiar, berikhtiar saja. Dia tidak melibatkan Allah. Sejalan-jalannya. Betul memang dunia ini sudah dibuat-Nya berjalan dengan sunnatullaah-Nya. Sesiapa yang bekerja, maka dia gajian. Sesiapa yang belajar, maka ia mendapatkan ilmunya. Sesiapa yang berusaha, berniaga, maka ia mendapatkan keuntungan. Sesiapa yang berobat, maka ia temukan kesembuhan. Kira-kira begitulah ragam sunnatullah-Nya. Meskipun ada sebaliknya yang juga merupakan sunnatullaah-Nya juga. Maka, sesiapa yang melibatkan Allah, maka di dalam ikhtiarnya, ada Allah. Dan Allah, berarti ibadah dan keberkahan. Ikhtiarnya menjadi ibadah dan mengandung keberkahan. Sungguhpun ia tiada hasil.

Kelak akan ada juga pertanyaan, kedudukan ikhtiar di mana? Kedudukan ikhtiar adalah menjadi ibadah, manakala kita kemudian sudah secara hati dan pola hidup bertauhid. Tapi kemudian ikhtiar menjadi salah apabila secara hati dan pola hidup tidak bertauhid. Dan kelak juga kita akan belajar banyak kesia-siaan akhirnya terjadi sabab salah langkah menuju manusia, bukan menuju Allah.

Contoh, seseorang yang kepengen kerja. Ia lalu melayangkan surat lamaran pekerjaan tanpa mengucap basmalah, tanpa shalat dan doa terlebih dahulu, tanpa bersedekah di awal, bisa jadi, sesuai sunnatullah-Nya, ia mendapatkan pekerjaan itu. Misalkan sebab ia memang lulusan terbaik, banyak skilnya, bagus, multi-talent, dan punya performa yang mengagumkan. Namun, sebatas mendapatkan pekerjaan itu. Tidak mendapatkan Allah. Dan ini berarti tidak menjadi ibadah dan tidak menjadi keberkahan baginya.

Seseorang yang sakit. Ia cari kesembuhan dengan berobat. Lalu ia bener-bener sembuh. Padahal ia tidak berdoa, keluarganya tidak shalat dan berdoa, tiada pengajian-pengajian yang digelar, tiada ibadah dah pokoknya, wes berobat ya berobat. Bahkan tanpa basmalah. Ini memang juga sunnatullah-Nya. Dan yang demikian ini berlaku juga buat mereka yang bahkan tidak ber-Tuhan sekalipun. Barangkali ia ketemu dokter yang tepat, ketemu obat yang berkesesuaian. Tapi sakitnya ini ga menjadi rahmat buatnya. Dengan sakitnya ia tiada ada menambah kedekatan diri dengan Allah.

Seorang yang berhutang, tapi ia penuh semangat. Ia tidak mau kehilangan motivasi hidup hanya lantaran hutang. Ia bangun spirit hidupnya. Ia bangun motivasi dirinya. Kemudian ia full-kan ikhtiar, subhaanallaah, secara dunia, ia bisa menjadi the winner, pemenang. Hutangnya bisa saja ia tundukkan. Sayangnya, ia tidak memulai segala ikhtiarnya dengan bismillah. Ibadah tiada ia tegakkan. Allah ia tidak percayai, bahkan barangkali ia malah menyalahkan gara-gara Allah nih ia berhutang. Bisa saja hal ini terjadi. Nah, terhadap yang begini, ikhtiarnya dan permasalahannya, tidak membawa nilai ibadah dan keberkahan. Biasa saja.

Tentu saja, tidak ada jaminan juga bahwa Anda-Anda yang ber-Tuhan Allah, lalu begitu saja mendapatkan kemudahan. Ya sama saja. Ikhtiar, proses, ya perlu dilakukan dan dilalui. Namun buat mereka-mereka yang melibatkan Allah, maka sebelum lagi semua pekerjaannya itu menghasilkan, ia sudah menang duluan. Dari kali langkah yang pertama, semua sudah menjadi ibadah. Dan seluruh tahapannya mengandung keberkahan. Masya Allah. Beda nya di mana? Barangkali di nilai. Bahkan saya mau cerita di edisi ini, dengan sedekit mengubah pola ikhtiar kita, yakni dengan melibatkan Allah, maka hasilnya akan masya Allah. Beda sekali. Baik dalam kecepatannya, dalam hasilnya, dan dalam prosesnya. Semuanya akan diberikan Allah kenikmatan. Tentu sebagai seorang hamba Allah, kita tidak kepengen apa-apa yang kita lakukan tidak memiliki nilai di mata Allah. Sebab kita akan kembali kepada Allah. Kita kepengen semua apa yang kita lakukan menjadi ibadah dari kita kepada-Nya yang penuh dengan keberkahan. Istilahnya, kalau kita cuma kerja sebagai pegawai biasa, ya pasti kita gajian. Cuma kita kepengen beda. Kita baca bismillah di setiap kita mau mulai beraktifitas. Bahkan kita mendahului seluruh gerakan ibadah dengan mengawali shalat tahajjud dan dhuha. Kita pun mengakhiri seluruh aktifitas kita dengan mengucap hamdalah, dan bahkan menutup malam menjelang tidur dengan membaca aya-ayat al Qur’an, zikir sebelum tidur dan shalat dua rakaat. Kita pun kepengen berbeda dengan karyawan biasa. Di mana kita menganggap majikan kita bukanlah manusia. Tapi Allah. Sehingga ketika azan baru saja akan datang (belum datang), kita sudah bergegas bersiap-siap. Ketika akhirnya azan datang, kita sudah menghentikan segala aktifitas keduniaan kita dan sudah siaga di atas sajadah dalam keadaan berwudhu. Kita pun kemudian beda di hasil. Ketika karyawan yang lain begitu gajian dia lupa diri dan foya-foya, atau sekedar membeli hajat keperluan hidup dan rumah tangga, kita beda. Kita jalan dulu memberi kanan dan kiri kita sebelum akhirnya kita sampai ke rumah. Kita sisihkan sebahagian rizki kita sebelum lagi uang itu habis. Yang lain, nunggu uang itu habis. Kita, mencoba mendahulukan hak Allah. Masya Allah.

Dan tentu saja, tidak ada juga yang sudah melibatkan Allah dan menyempurnakan ikhtiar, lalu hasilnya malah sama dengan yang tidak melibatkan Allah, dan yang tidak menyempurnakan ikhtiar. Hasilnya pasti beda. Bila kita bisa seperti ini, maka inilah sebahagian yang disebut berhidup berkah. Punya tauhid. Punya Allah. Beda hidup antara yang memiliki Allah dan yang tidak. Ada orientasi. Dan setinggi-tingginya orientasi adalah ke Allah, menuju Allah. Dan hasilnya pun jelas akan beda. Enak dimakan, begitu kata orang tua mah. Dimakan, jadi daging. Dibelikan sesuatu itu uang, mesti jadi sesuatu yang bermanfaat dan bisa dinikmati.


Untuk lebih lengkapnya silahkan download versi cetaknya :
KDW0127 Seri 27 dari 41 seri/esai

Load disqus comments

0 komentar