Diposkan oleh Nursani Ahmad on Sunday, November 29, 2009
Categorie

Jalan hidup itu Allah yang punya. Kita hanya bisa meniti, tapi tidak bisa mengatur. Kita hanya bisa meminta, tapi kita tidak bisa memaksa. Tapi, dengan hanya menyisakan semangat, percaya semua kejadian ini ada Allah di baliknya, percaya bahwa Allah akan mengatur yang terbaik, percaya bahwa Kehendak Allah itu pasti baik adanya, kemudian mau menerima hidup ini seadanya keadaan, dan berkenan memperbaiki diri, insya Allah segalanya berjalan sangat baik. Bahkan kita akan melihat, kehidupan di kemudian hari adalah kemenangan buat yang percaya bahwa memang kehidupan ini milik Allah. Berbaik-baik saja dengan-Nya, dan mulailah mendekatkan diri pada-Nya.


Yth., semua Peserta KuliahOnline, tertanggal hari ini, 29 Oktober 2008, saya akan mengikuti ujian kompre dan ujian baca kitab al Mahalli. Ini saya ikuti sebagai syarat kelengkapan kelulusan meraih gelar sarjana satu (S1) di UIN.

Semalam saya berhadapan dengan buku-buku yang sebisa mungkin saya baca untuk tambahan persiapan ujian-ujian pagi ini. Kitab Hasyiataani, atau yang lebih dikenal dengan al Mahalli (Kitab
Fiqh), pun saya usahakan baca, khususnya bab-bab yang akan diujikan.

Dalam pada itu, pikiran saya juga tertuju pada saudara-saudara semua: Peserta KuliahOnline. Saya tidak mau libur lagi, he he he. Kecuali memang ketika saya memang sengaja men-jeda. Seperti beberapa waktu yang lalu, saya jeda dengan meminta semua peserta melihat-lihat kolom-kolom lain di Wisatahti.com. Saya menjeda perkuliahan, untuk memberi kesempatan dan mendorong saudara peserta semua untuk menjelajahi isi web. Khususnya kolom interaksi sms dan artikel lepas.

Jadi, semalam, ketika saya selesai menelaah buku dan kitab yang akan diujikan, saya mencoba berakrab-akrab dengan komputer. Tapi masya Allah, di pondok ada sedikit masalah. Masalah rumah pembina, rumah asaatidz.

Pesantren menyewa satu rumah yang cukup besar, untuk dijadikan rumah-rumah tempat tinggal para ustadznya. Disewalah ini rumah selama 3 tahun. Tahu-tahu, belum lagi genap setengah tahun rumah ini disewa, sudah ada yang mendatangi untuk dikosongkan. Sebab katanya udah dijual.

Kebetulan saya sedang belajar Hukum Perikatan. Belajar tentang Akad. Belajar tentang Bisnis Islami. Lumayan terasa ilmu ini hidupnya di masyarakat.

Perbuatan si pemilik rumah, tentu saja tidak bisa dibenarkan. Namun, getaran hati mengatakan, mesti ada apa-apa nih. Maksud saya, mesti si pemilik rumah sedang mengalami satu dua hal peristiwa besar atau kesulitan dalam hidupnya, sehingga ia menempuh jalan ini.

Wise, atau kebijakan, atau kebijaksanaan, juga adalah sesuatu yang diperlukan dalam hidup ini, juga di dalam urusan hukum. Mirip seperti ‘Umar bin Khattab yang melepas seorang pencuri sebab karena lapar, dan si pencuri berjanji akan bertaubat.

Saya panggillah si pemilik rumah. Kebetulan, rumah dia pribadi, saya beli. Juga buat pembina/asaatidz. Jadi, rumah ini ada dua. Satu, rumah yang saya beli, dan satu yang saya kontrak. Di dalam rumah pribadi dia pun (yang saya beli), ada bagian rumah yang dikontrakkan. Tapi seingat saya, saya mengajak ngobrol si pengontrak ini, bersama-sama pemilik awalnya. Saya beritahu bahwa rumah ini sudah dibeli, dan saya persilahkan orang tersebut meneruskan sewanya sampe tahun yang sudah ia bayar. Selanjutnya, urusannya ke saya (ke pesantren). Dan saya pun menyatakan akan memberi kesempatan untuk terus melanjutkan sewaannya itu kalo dia suka, kalo dia betah. Ternyata si penyewa ini sudah sewa selama dua tahun. Dia tidak keberatan keluar, asal diganti utuh uang sewanya. Alhamdulillah, ada mufakat. Pesantren mengembalikan uang sewanya itu, tanpa memotong biaya beli rumah itu.

Begitulah keagungan Islam. Mengatur kehidupan ini dengan lembut. Di dalam hukum tunangan saja,
jika kita tahu seorang perempuan sudah dilamar, tidak boleh kita melamarnya dan tidak boleh si
perempuan (atau keluarga perempuan) menerima lamaran orang lain. Sampe clear segala urusan. Sampe segitunya Islam mengatur. Maka kemudian, ketika muncul masalah di rumah yang satunya lagi, rumah kontrakan yang dikontrak (bukan yang dibeli), saya berinisiatif memanggil semuanya.

Alhamdulillah, selesai. Tapi jadinya, saya tidak jadi lagi megang komputer, he he he.


Untuk lebih lengkapnya silahkan download versi cetaknya :
KDW0126 Seri 26 dari 41 seri/esai


Read More......
Comments
Diposkan oleh Nursani Ahmad on Sunday, November 22, 2009
Categorie

Panen Amal

Di Kuliah 22, dikupas tentang poin-poin keburukan kita. Yang dengannya saya ingin membuka mata, jika ada seseorang berdoa dan beramal, lalu belum kunjung selesai juga masalahnya, please, jangan cepat-cepat putus asa. Lihat-lihat juga kelakuan kita sebelum mengambil jalannya orang-orang yang baik. Apabila ternyata kita-kita ini termasuk orang yang rajin mengumpulkan poin keburukan, alias senang melakukan maksiat, keburukan dan dosa, maka ya banyak-banyak bersyukur saja kepada Allah. Kenapa mesti banyak bersyukur? Ya, sebab dipanjangkannya umur kita saja , sudah merupakan karunia dari Allah. Dengan itu, kita bisa memperbaharui iman kita, bisa bertaubat, bisa kemudian mengejar ketertinggalan kita. Dan karunia bisa bertaubat sendiri adalah satu karunia yang masya Allah, mahal sekali. Teramat mahal malah. Banyak orang yang tiada sempat bertaubat, tapi kita diberi-Nya kesempatan bertaubat. Dan tiada yang bertaubat kecuali itu adalah untuk kebaikannya sendiri.


“… Wa man tazakkaa fainnamaa yatazakkaa linafsihi. Wa ilallaahil mashiir, Dan barangsiapa yang menyucikan diri, sesungguhnya ia menyucikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah lah tempat kembali”. (Qs. Faathir: 18).

“Fa-almahaa fujuuraha wataqwaahaa. Qad aflaha man zakkaahaa wa qad khaabamandassaahaa, Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketaqwaan. Sungguh beruntung orang yang membersihkannya dan sungguh merugi orang mengotorinya”. (Qs. asy Syams: 8-10).


Dalam satu dua masa libur yang saya tambah panjangkan masa liburnya nih KuliahOnline, saya meminta kepada semua Peserta KuliahOnline untuk menjelajahi kolom-kolom lain di Wisatahati.com. Ada saya suruh peserta untuk membuka artikel-artikel lepas dan kolom-kolom sms jamaah. Antara lain maksudnya untuk melihat-lihat yang sekorelasi dengan kuliah kita ini.

Di antara sekian banyak artikel saya, saya meng-upload sms-sms dari jamaah berikut jawaban saya. Tentu saja nama dan nomornya udah saya samarkan. Di antara sms itu ada yang bertanya, mengapa saya koq sudah 5 tahun terakhir ini berikhtiar dengan jalan sedekah dan bangun malam, koq tetap tidak mendapatkan jodoh? Sebagiannya bertanya, mengapa begini begitu, seputar pengakuan sudah nge-track, ngebut, berbuat amal saleh tapi hajatnya belum juga terkabul; entah itu jodoh, atau hal-hal lainnya seperti hutang, rizki, pekerjaan, anak keturunan, dan lain-lain. Saya rata-rata menjawab dengan pertanyaan: Bagaimana masa lalunya? Apa yang terjadi hari ini, sangat terkait dengan kemaren. Ini bukan menghukum diri, ini untuk mengoreksi. Kita mencari tahu dengan cermin kejujuran diri, tapi justru agar kita termasuk orang-orang yang beruntung, yakni berkenan untuk menyucikan jiwa kita yang kotor. Ada yang menjawab sedang tidak bicara dengan ibunya, sebab satu dan dua hal. Ada yang mengatakan sebelumnya senang sekali berzina. Ada yang mengatakan udah kebanyakan makan uang haram. Ada yang mengatakan baru saja bertaubat dari judi dan meninggalkan shalat. Ya itu lah. Perlu banyak-banyak bersyukur. Karena Kemurahan Allah lah, kitakita ini masih diberi-Nya kesempatan umur panjang dan kesempatan bertaubat. Dua ini saja, rasanya lebih mahal dari apa yang menjadi hajat kita.

Berikut ini cuplikan artikel saya tentang apa yang perlu kita lakukan supaya Allah berkenan

“memangkas masa pemberlakuan hukuman/azab”:

Hendaknya kita meng-enolkan dulu semua perbuatan buruk kita dengan bertaubat. Menghentikan perbuatan buruk, judi misalnya, tidak serta merta dianggap bertaubat. Perlu ada pernyataan lisan dari kita. Pernyataan memohon ampun. Pernyataan permohonan maaf. Kita minta ampun sama Allah, minta maaf pada-Nya atas semua kesalahan-kesalahan kita.

Cara yang paling efektif di awal adalah shalat taubat. Shalatnya cukup 2 rakaat saja dengan bacaan bebas di setiap rakaatnya. Tapi, persiapkan diri yang betul, dengan benar-benar mendidik diri sebelum shalat, bahwa sebentar lagi kita akan menegakkan shalat dengan membawa dosa-dosa yang mau kita mintakan ampun kepada Allah. Allah sudah berjanji akan mengampuni kita bila kita mau datang kepada-Nya, bahkan Allah akan memberikan ampunan-Nya lebih banyak ketimbang dosa yang kita bawa kepada-Nya. Habis itu perbanyak shalat-shalat taubat di setiap kesempatan.

Di awal-awal saya dulu meniti jalan pertaubatan, malah saya usahakan di setiap shalat fardhu, saya menegakkan shalat taubat plus shalat hajat. Shalat taubat untuk masa lalu saya, shalat hajat untuk masa depan saya. Bahkan sekarang-sekarang ini, saya mulai galakkan lagi. Selain tentu saja sehat, sebab ada gerakan-gerakan shalat yang menyehatkan fisik, menegakkan shalat sunnah taubat dan hajat juga menjadi satu keberkahan tersendiri adanya. Begitu banyak fadhilah untuk masa lalu dan masa depan kita.

Kemudian setelah itu, kejar semua ketertinggalan kita dengan banyak-banyak istighfar, dan menghidupkan sunnah-sunnah semaksimal-maksimalnya kemampuan kita. Bukan seadanya loh ya. Semaksimalnya. Yang disebut ibadah sunnah itu; qabliyah ba’diyah, dhuha, tahajjud, witr, baca al Qur’an, shalat berjamaah, sedekah, dan menahan diri dari perbuatan-perbuatan buruk yang baru.

Demikian cuplikan artikel saya mudah-mudahan bermanfaat.

Terus motivasi diri kita. Allah itu Maha Pemurah. Untuk mengejar ketertinggalan kita, Allah sediakan ampunan dan jalan-jalan kebaikan yang luar biasa yang insya Allah menjadi enteng buat kita mengubur dosa-dosa kita, meng-enolkan maksiat kita, dan selanjutnya kita melaju bebas di jalan-jalan kebaikan.

Untuk lebih lengkapnya silahkan download versi cetaknya :
KDW0125 Seri 25 dari 41 seri/esai

Read More......
Diposkan oleh Nursani Ahmad on Friday, November 20, 2009
Categorie

Bismillaahirrahmaanirrahiem
Assalamu'alaikum wrb.

Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha melihat apa-apa yang kamu kerjakan. ( Al Baqarah 110. )

Selama kita berpegang teguh kepada Al Qur'an dan sunnah Rasul Insya Allah kita semua bisa bahagia didunia dan diakhirat,Ust pernah bilang kenapa sih cari-cari kesalahan diluar padahal diri kita sendiri nggak diinteropeksi, kadang kita selalu merasa diri kita paling benar kok bisa begitu sih ?... karena kita selalu melihat ilmu yang dibawah , ah mereka belum bisa sholat ,ah mereka belum bisa apa yang kita bisa tentu ilmu kita segitu-gitu aja karena kita melihat yang dibawah, cobalah kita melihat yang diatas , waduh.. mereka udah bisa hafal yaasiin pokoknya saya harus bisa seperti mereka, wah... mereka udah bisa baca rawi 4 saya belum sama sekali pokoknya saya harus bisa seperti mereka (titik gak pake koma).


Kenapa sih sholat begitu penting ?.. karena itulah urat nadi kita, itulah kewajiban kita yang akan ada pertanggung jawaban dihadapan Allah SWT, kok mereka cuek-cuek aja ya..? karena mereka adalah orang-orang paling bodoh!! kok bisa gitu sih.., yang paling riil,yang pasti, yang akan terjadi kita semua pasti akan mati ! kita sudah tahu,sudah mengetahui eh.. masih cuek-cuek aja kan bodoh bener kita emangya duit yang triliunan bisa kita bawa mati kan kagak dibawa.emangnya klo bisa dibawa duit kita, laku diakhirat kan gak ada yang bisa ngejamin, trus yang laku duit apaan dong buat diakhirat, emangnya ada ?.... ada !! kalo kita udah tahu mooney changernya. kenegara lain aja rupiah kita aja harus ditukar dulu kalo diakhirat dimana tukarnya bang ?... tukarnya sama anak-anak yatim, sama masjid yang lagi dibangun , sama Ust Yusuf Mansur yang punya pesantern penghafal Al Qur'an dan masih banyak lagi mooney changer lainnya yang nggak bisa saya sebutin satu persatu tapi tidak mengurangi rasa hormat saya kepada beliau Kok jadi gak nyambung sih,,???!!!! he..he.. mangap eh maaf. intinya kita harus mengerti apa yang Allah inginkan bukan apa yang kita inginkan, Allah maha melihat apa-apa yang kita kerjakan semoga Allah melimpahkan rahmat dan karunianya kepada kita semua Al Fatihah...


Sekian dari saya kesempurnaan hanya milik Allah SWT saya mengingatkan khususnya untuk diri saya sendiri semoga bisa bermanfaat buat yang lainnya terima

Wassalamu'alaikum wrb

Read More......
Comments
Diposkan oleh Nursani Ahmad on Tuesday, November 17, 2009

Penulis: Adian Husaini

Mohammad Natsir (1908-1993) dikenal sebagai pejuang Islam Indonesia yang pada 2008 mendapat penghargaan sebagai Pahlawan Nasional. Natsir juga seorang pemikir dan pelopor pendidikan Islam. Tulisan-tulisannya yang dihimpun dalam buku Capita Selecta menunjukkan ketinggian keilmuan M. Natsir. Meskipun hanya mengenyam pendidikan formal setingkat AMS ( Algemene Middelbare School), setingkat SMA sekarang, tetapi Natsir memiliki kacintaan yang sangat tinggi dalam mencari ilmu.

Tumbuh dalam asuhan pendidikan keagamaan oleh A. Hassan, seorang tokoh modernis, Natsir mampu mengembangkan pemikirannya jauh melampui lingkungan pendidikan formalnya. Pada sekitar tahun 1930-an, dalam usia sekitar tiga puluhan, Natsir telah aktif menulis tentang berbagai persoalan keilmuan dan terlibat dalam perdebatan ilmiah dengan berbagai kalangan. Melalui tulisan-tulisannya, ketika itu, tampak Natsir sudah membaca berbagai literatur tentang aqidah, sejarah, ilmu kalam, tasawuf, filsafat, syariah, perbandingan agama, dan sebagainya. Hampir dalam setiap tulisannya, Natsir mampu meramu dengan baik, sumber-sumber dari kalangan Muslim maupun karya-karya orientalis Barat. Ambillah satu contoh sebuah artikel berjudul ”Muhammad al-Ghazali (450-505 H, 1058-1111)”, yang dimuat di majalah Pedoman Masyarakat, April 1937.

Dalam artikel ini, Natsir memaparkan keagungan pemikiran dan kiprah al-Ghazali dibandingkan dengan prestasi ilmuwanilmuwan Barat. Kitab Maqashidul Falasifahnya al-Ghazali, misalnya, sudah diterjemahkan oleh Dominicus Gundisalvus ke bahasa Latin pada abad ke-12 M. Di sini, Natsir juga menguraikan teori kausalitas al-Ghazali yang mendahului teori David Hume (1711-1776) tujuh ratus tahun sebelumnya. Natsir membantah bahwa David Hume lah sarjana pertama yang mengungkap teori kausalitas ( causaliteitleer). Natsir tidak menolak jasa David Hume dalam soal ini. Tetapi, tulisnya, ”jangan dilupakan, bahwa 700 tahun sebelum David Hume, telah pernah seorang filosof Muslim di daerah Timur yang mengupas masalah ini dalam Kitabnya, Tahafutul Falasifah.”

Setelah mengupas sedikit teori kausalitas al-Ghazali, Natsir mengingatkan: ”Aneh! Hal ini rupanya tidak hendak diingat orang. Dan kalau kita ketahui bahwa seorang filosof Barat sebagai Immanuel Kant mengakui, bahwa David Hume-lah yang membukakan matanya, dapatlah kita mengira-ngirakan betapa besar kadarnya kekuatan ruhani Ghazali dibandingkan dengan filosof-filosof yang masyhur di Barat itu.”

Kemudian, secara khusus, Natsir memberi komentar terhadap pemikiran al-Ghazali: ”Kalau Imam Ghazali oleh karena ini tidak dinamakan seorang filosof-’aqli, maka itu tidak berarti bahwa akalnya kurang dipakai dibandingkan dengan filosof yang lain-lain. Tak kurang Al-Ghazali mengupas falsafah Socrates, Aristoteles dan memperbincangkan pelbagai masalah yang sulit-sulit dengan cara yang halus dan tajam sekali dalam kitabnya yang tersebut di atas. Tak kurang ia membentangkan ilmu mantik dan tak kurang pula menyusun ilmu-ilmu yang tahan uji dibandingkan dengan karangankarangan filosof yang lain. Semua ini menunjukkan ketajaman akalnya dan memakai akal itu sebagai salah satu nikmat yang dikurniakan Allah kepada manusia. Tapi dalam pada itu ia tidak hendak lupa, bahwa akal ini pun dapat bekerja hanya sampai kepada suatu batas yang tak dapat dilampaui. Apabila filosof yang lain masih terus juga menurunkan akal itu ke mana-mana, di bawa oleh akal itu sendiri, walaupun sudah bukan medan pekerjaannya lagi, serta menjadikan akal sebagai hakim yang menghabiskan dalam semua hal —, pada saat yang demikian itu Imam Ghazali tidak enggan berkata dengan khusyu’ ”wallahu a’lam!” – ”Allah yang lebih mengetahui!” dan kembali kepada Kitab (Al-Quran), Yang tak syak lagi menjadi petunjuk bagu mereka yang takwa.”

Melalui artikel yang pendek tersebut, Natsir menguraikan jasa-jasa besar al-Ghazali bagi umat Islam, disamping juga kontroversi terhadap pemikirannya dan apresiasi para ilmuwan Barat terhadapnya. Terhadap kontroversi terhadap pemikiran al-Ghazali, Natsir menulis, bahwa itu: ”... ialah suatu hal yang galib diterima oleh setiap orang yang berjalan di muka bumi merintis jalan baru, yang mendengarkan suara keyakinan yang teguh yang berbisik di dalam hati, dan tidak hendak turut-turut ke hilir ke udik, seperti pucuk aru dihembus angin.”

Penguasaan Natsir terhadap pemikiranpemikiran para pemikir Muslim klasik bisa dilihat dalam berbagai artikelnya dalam buku Capita Selecta yang mengupas sosok dan pemikiran Ibnu Thufail, Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih, Abu Nasr Al-Farabi, Ikhwan as-Shafa, juga kupasannya tentang aliran Mutazailah dan Ahli Sunnah. Meskipun sangat memahami seluk beluk peradaban Barat, melalui berbagai tulisannya yang mengupas keagungan sejarah peradaban dan pemikir Muslim, Natsir menyampaikan pesan yang jelas kepada kaum Muslim: Jangan merasa rendah diri melihat kehebatan peradaban Barat!

Read More......
Comments
Diposkan oleh Nursani Ahmad on Sunday, November 15, 2009

Warga Muslim di dua Manokwari dan Wondama mengaku termarginalkan. Sejak mayoritas Kristen mendesak Manokwari sebagai kota Injil, keadaan mereka serasa di ujung tanduk

Dua kabupaten, Wanokwari dan Wondama, di Papua Barat terus menggeliat. Kedua kota yang terletak di Papua Barat ini seolah terus menunjukkan eksistensinya sebagai kota “Kristen”. Seperti diketahui, sejak lama, mayoritas Kristen di sana mendesak agar Manokwari dijuluki kota Injil.

Namun, hingga kini, rencana itu masih terus digodok di DPRD setempat. Walau belum tentu goal di tingkat pusat, melihat komposisi anggota di dewan rencana ini sebagai sesuatu yang memungkinkan. Sebagaimana diketahui, dari 27 anggota dewan, hanya dua yang Muslim.

Beberapa aktivis Muslim mengaku sudah mulai merasa kesulitan. Seorang aktivis Muslim, Said Ahmad, di Papua Barat mengaku, ia sering diingatkan tentang pemasangan simbol-simbol Islam. Tahun 2009, ketika ia akan mendirikan sebuah pesantren di Wondama, masyarakat Kristen melarang. Padahal, pendiriannya akan diresmikan oleh Bupati. Namun, atas desakan masyarakat Kristen, pendirian itu akhirnya gagal.

Maklum, muslim di sana hanya berjumlah sekitar 10 persen saja,” ujarnya kepada www.hidayatullah.com.

Kondisi ini membuat kalangan Muslim tak bisa leluasa berdakwah. Menurutnya, kini, dakwah di Wondama hanya bisa dilakukan dengan hal-hal biasa. Misalnya halaqah atau ceramah di rumah. Ia juga mengaku khawatir, jika rencana Manokwari sebagai Kota Injil yang telah direncanakan lama itu akhirnya akan goal di parlemen. [ans/www.hidayatullah.com]

Read More......
Comments
Diposkan oleh Nursani Ahmad on Sunday, November 15, 2009

Data hisab almanak PBNU yang disusul oleh Lajnah Falakiyah menunjukkan ijtima’ awal bulan atau konjungsi akan jatuh pada 17 November pukul 02.13.57 WIB

Hidayatullah.com--Hari raya Idul Adha 1430 H di Indonesia tahun ini hampir dipastikan bersamaan. Berdasarkan data hisab beberapa ormas Islam dan Departemen Agama, awal Dzulhijjah diperkirakan akan jatuh pada 18 November sehingga hari raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1430 H akan jatuh pada 27 November 2009.

Sementara rukyatul hilal yang diadakan pada akhir Dzulqa’adah atau 17 November hampir dipastikan akan berhasil karena posisi hilal diyatakan sudah sangat mungkin untuk dirukyat, sehingga keesokan harinya sudah bisa dinyatakan sebagai awal bulan baru.

Data hisab dalam almanak PBNU yang disusul oleh Lajnah Falakiyah menunjukkan ijtima’ awal bulan atau konjungsi akan jatuh pada 17 November pukul 02.13.57 WIB. Sementara hilal pada saat Matahari terbenam pada hari itu atau akhir bulan Dzulqo’dah sudah mencapai ketinggian 4,48 derajat dan lama di atas ufuk mencapai 27 menit 40 detik.

Berdasarkan data itu maka awal Dzulhijjah diperkirakan akan jatuh pada 18 November 2009 karena hilal akan mudah dirukyat.

Lajnah Falakiyah NU sendiri akan mengkoordinir pelaksanaan rukyat pada akhir bulan Dzulqa’dah di sedikitnya 75 titik rukyat seluruh Indonesia. Jika salah satu dari titik rukyat telah berhasil melihat hilal maka rukyat dinyatakan berhasil.

”Mudah mudahan ada yang berhasil. Ya kita lihat saja nanti mengingat sekarang musim hujan dan banyak daerah yang mendung,” kata anggota Litbang Pengurus Pusat Lajnah Falakiyah PBNU dikutip NU Online, Jum'at (13/11).

Hendro sendiri akan mengordinir pelaksanaan rukyat awal Dzulhijjah di Pelabuhan Ratu Jawa Barat. Pelabuhan Ratu menjadi salah penentu awal Syawal kemarin dalam sidang itsbat Departemen Agama karena para perukyat NU berhasil menyaksikan hilal di tempat ini. [nurid/www.hidayatullah.com]


Read More......
Comments
Diposkan oleh Nursani Ahmad on Saturday, November 14, 2009
Categorie ,

Memulai bisnis desain dan percetakan tidak sesulit yang diduga oleh banyak orang. Bisnis ini lebih bersifat jasa daripada produksi, kecuali Anda memulainya dengan membeli mesin cetak sendiri.

Modal awal yang dibutuhkan untuk menjadi pengusaha desain dan percetakan adalah relasi, ketekunan dan keseriusan, management waktu, dan pelayanan pelanggan. Anda dapat memulai bisnis ini dengan modal uang Nol, cukup memanfaatkan asset yang Anda miliki, seperti sepeda motor, komputer dan handphone.

Langkah-langkah yang dibutuhkan untuk memulai usaha ini adalah :

1. Mencari supplier kertas, seperti toko kertas, minta katalog contoh kertas beserta harga-harganya

2. Mencari perusahaan percetakan yang menerima jasa makloon (menerima ongkos cetak), tanyakan berapa tarif cetak perwarna, atau per proyek, mintalah informasi sedetail-detailnya tentang proses cetak, dan hal-hal yang mempengaruhi harga dan kualitas.

3. Mencari supplier pra cetak, seperti film separasi warna dan pembuatan plat cetak, pelajari tarif2 nya, dan spesifikasi file komputer yang dapat mereka terima, apakah mereka bisa menerima file output dari CorelDraw, Adobe Ilustrator, Freehand, dsb... Pelajari juga tarif2 nya.

4. Mencari perusahaan jasa desain, yang menerima order desain atau setting layout, kecuali Anda memiliki skill desain dan layout serta memiliki perangkat komputer dan printer sendiri.

5. Beli buku-buku desain, contoh2 desain brosur, logo, dsb.. sebagai ilustrasi buat calon pelanggan, sehingga mereka bisa menemukan style yang mereka inginkan, untuk kemudian kita kembangkan sendiri sesuai harapan pelanggan.

6. Belajarlah berhitung harga cetak seteliti mungkin sehingga harga jual bisa sangat bersaing.


Proses Kerja bisnis ini :

1. Pelanggan menceritakan kebutuhannya, harapannya dan spesifikasi benda cetaknya.

2. Anda membuat draft desain awal, mintakan persetujuan pelanggan, umumnya pelanggan meminta beberapa alternatif sehingga mereka dapat memilih.

3. Setelah draft desain awal disetujui, kembangkan desain tersebut sehingga layak untuk diproduksi, gunakan file2 foto yang resolusi tinggi (high resolution), convert file foto menjadi CMYK, sebab secara default file2 foto menggunakan format RGB, sehingga akan bermasalah jika langsung di proses pembuatan film jika tidak dikonversi ke format CMYK terlebih dahulu.

4. Print final desain untuk mendapat persetujuan pelanggan, pastikan tidak ada kesalahan pengetikan dan gambar, pastikan pelanggan menandatangani proof desain tersebut, hal ini diperlukan jika terjadi komplain dari pelanggan dikemudian hari.

5. Copy file desain menggunakan flash disk, kirim kepada perusahaan percetakan (jika mereka memiliki semua prangkat pra cetaknya), atau kirim kepada peruasahaan pra cetak, separasi film warna dan plat.

6. Beli kertas sesuai spesifikasi yang diminta pelanggan, minta kepada toko kertas untuk memotong kertas sesuai dengan final output yang diinginkan ditambah margin untuk percetakan (area kosong minimal yang dibutuhkan untuk proses cetak, koordinasikan kepada perusahaan percetakan tentang hal ini, setiap mesin memiliki spesifikasi yang berbeda).

7. Bawa kertas yang sudah Anda beli beserta film separasi warna dan plat cetak kepada percetakan, buat tanda terima dan perintah kerja, termasuk masalah harga dan janji tanggal penyelesainnya.

8. Umumnya perusahaan percetakan akan langsung memotong cetakan sesuai ukuran finalnya, dan umumnya juga memiliki fasilitas finishing seperti vernish, laminasi, lipat, dan jilid, jika mereka tidak memilikinya, maka bawa output cetak tersebut kepada perusahaan finishing.


Cara Pemasaran

1. Buat kartu nama yang berkualitas dengan desain yang menarik

2. Tentukan nilai tambah Anda, positioining Anda, apakah Anda menonjol diharga jual yang murah ? apakah kualitas desain yang baik ? apakah ketepatan waktu ? atau hal-hal lain yang menjadi nilai tambah dan membuat Anda berbeda dari pesaing-pesaing lainnya. Lakukan survey kepada perusahaan2 sejenis, apakah yang mereka berikan kepada pelanggan, apa kelemahan mereka, dsb...

3. Manfaatkan kenalan-kenalan Anda untuk menjadi pelanggan pertama Anda

4. Minta referensi dari pelanggan2 pertama Anda agar mengenalkannya kepada teman2 mereka

5. Buat brosur sederhana, namun menarik dan unik yang dapat digunakan untuk promosi saat ada event2 tertentu, dimana Anda dapat membagikan brosur2 tersebut kepada mereka yang menurut Anda prospektif.

6. Buat website informasi perusahaan Anda, dengan menampilkan kelebihan2 yang dimiliki. Website tidak harus berbayar, manfaatkan saja blog gratisan seperti wordpress, dsb... banyak theme / template desain yang menarik yang dapat meningkatkan image perusahaan Anda.

7. Lakukan pemasaran terencana, buat daftar prospek yang paling sesuai dengan kelebihan Anda. Kirim surat perkenalan, baik melalui pos atau email dan fax.

8. Jika ada pelanggan yang terlalu menuntut discount, jika ditolak maka Anda kehilangan order, namun jika diterima maka akan menurunkan image Anda menjadi murahan, maka solusinya adalah dengan beriklan diproduk cetakan tersebut, dengan menulis nama perusahaan dan logo di benda cetak tersebut, banyak pelanggan yang akan senang dengan solusi ini. Anda tidak terlalu rugi, margin memang tipis tapi Anda berkesempatan berpromosi kepada banyak orang.

9. Banyak lagi cara-cara pemasaran yang bisa dilakukan, seperti merekrut sales baik digaji tetap maupun freelance, semakin banyak yang Anda rekrut semakin besar peluang Anda mendapat proyek, karena mereka akan termotivasi dengan komisi yang Anda berikan.

10. Yang terpenting adalah MEREK, kembangkan merek yang menarik, mudah diingat dan sesuai dengan konsep bisnis Anda. Karena relasi merek dengan konsep bisnis Anda sangat penting. Percetakan yang murah = Percetakan Cerah, Percetakan yang Desainnya Unik = Pernik, dst... Konsumen harus bisa menghubungkan merek Anda dengan konsep bisnis Anda. Fokus adalah kuncinya!


Modal

1. Jika melihat proses diatas, maka tidak diperlukan modal besar untuk usaha ini, malah bisa modal NOL, dengan memulainya sebagai makelar, mencari proyek sendiri, membawanya kepada perusahaan desain, membawa hasilnya kepada percetakan, dst...

2. Kendaraan memang sangat diperlukan untuk mobilitas tinggi, karena Anda harus ketempat pelanggan, membeli kertas, membawanya ke percetakan, dsb... namun sepeda motor sudah mencukupi. Kalau jumlah barang banyak, biasanya percetakan tempat kita mencetak akan bersedia membantu mengirimkan barang menggunakan mobil milik mereka kepada alamat pengiriman yang diminta pelanggan kita.

3. Kalau Anda memiliki kemampuan desain yang baik, maka sebuah komputer dan printer laser sudah mencukupi untuk memulai usaha. Kalau tidak mempunyai printer maka bisa mencetaknya di warnet dan perusahaan jasa printing digital yang sekarang banyak tersedia.

4. Tempat, tidak selalu menjadi syarat mutlak, gunakan rumah atau tempat tinggal Anda sebagai alamat, atau bekerjasama dengan teman yang memiliki lokasi yang cukup strategis, atau menyewa ruko kecil sebagai kantor.


Kunci Sukses

1. Jeli memilih supplier dan percetakan yang berkualitas, harga bersaing dan tepat waktu dalam pengerjaan.

2. Desain2 yang dihasilkan memiliki konsep, tidak asal artistik, namun memiliki konsep yang sesuai dengan konsep pemasaran / produk pelanggan.

3. Pelayanan pelanggan, ini benar2 mutlak, lakukan pendekatan personal kepada pelanggan, bicarakan masalah2 pribadi, sehingga mereka akrab dan nyaman berbisnis dengan Anda.

4. Tepati Janji, tepat waktu ! jangan banyak janji tapi tidak ada bukti, lebih baik berjanji sedikit tapi memberikan lebih, daripada berjanji lebih tapi memberikan kurang. Jangan over promise!


Penutup

Persaingan bisnis percetakan dan desain sudah sangat banyak, namun jangan khawatir, rezeki Anda Allah Ta'ala yang menentukan, Anda hanya diperintahkan untuk berusaha dengan memperbaiki mata pencaharian dan bertakwa, agar rezeki turun.

Perbaiki cara berbisnis dengan menemukan konsep yang tepat, unik dan tidak banyak dilakukan orang. Pilih positioning yang tepat, jangan asal terima proyek, kembangkan merek dan fokus bisnis yang kuat pada satu konsep saja, bangun merek dengan sungguh-sungguh, sehingga tercipta image positif dari merek tersebut.

Demikian sharing peluang bisnis ini, semoga bermanfaat.

Wassalamualaikum

Fadil Fuad Basymeleh



Catatan : Penulis adalah praktisi dunia percetakan, desain dan advertising sejak tahun 1992

Artikel : PengusahaMuslim.com

Read More......
Diposkan oleh Nursani Ahmad on Thursday, November 12, 2009
Categorie ,

Bismillaahirrahmaanirrahiem
Assalamu'alaikum wrb.


Makna Ikhlas

Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.

Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.

Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162). Surat Al-Bayyinah ayat 5 menyatakan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” Rasulullah saw. bersabda, “Ikhlaslah dalam beragama; cukup bagimu amal yang sedikit.”


Alkisah.. he..he... Hus! serius, maaf sekarang serius nih.

Begini ceritanya ada abang ama adik sang abang bekas seorang preman pokoke gitu deh gak usah didefinisiin seorang preman nah sang adik ini kebalikan dari abangnya pokoe sholeh dah definisiin sendiri dah.. .

selang beberapa tahun sang abang insyaf alias pensiun dari kepremanannya. Mulailah ia berpetualang mencari-cari jati diri keislamamannya,setelah sekian lama tanpa sengaja ia mendengar ceramah Ust.Yusuf Mansur di TV trus dia cari-cari cd ceramah Ust tersebut disebuah mall dan ia mendapatkannya walaupun bajakan ( ga papa kan ust. he..he..) saking inginnya memperdalam ilmu dengan ust. tersebut ia mendaftarkan diri mengikuti kuliah online wisata hati ( promosi nih.. bukan, cuma iklan kok.. sama aja donk he..he..)

Ia pernah membaca buku MENCARI TUHAN YANG HILANG karangan ust tersebut ( promosi lagi nih... au ah gelap) dalam buku tersebut ia terinspirasi tentang ust. memelihara anak yatim yang akhirnya menjadi istri ust. tersebut. nah kebetulan sang adik pengurus salah satu pengurus masjid dan ia membidangi masalah anak2 asuh khususnya anak yatim yang masih bersekolah, kalau ada data anak asuh/yatim yang baru biasanya sang adik maen kerumah sang abang untuk minjem komputer sang abang sekalian di print dan semua data2 anak asuh/yatim tersebut ada dikomputer sang abang, adik bilang bang data saya yang ada dikomputer abang jangan dihapus, abang bilang ok d kk. singkatnya begini tanpa sepengetahuan sang adik sang abang tersebut membuka file data2 anak asuh ia bermaksud ingin menjadi donatur anak2 asuh tersebut setelah sekian lama ia mencari akhirnya ia mendapatkan 2 orang nama, anak tersebut yatim dan masih kecil sekolahnya masih kelas 3 SD. sang abang tersebut berniat kalau minggu depan ia dapat rizki ia mau membagi rizki kepada 2 anak yatim tersebut, ternyata Allah mengabulkan do'a abang tersebut ia dapat proyek disuruh ngerakit komputer dan selanjutnya, dan selanjutnya bla bla.. bla.. ( panjang banget kalo diceritain, pokoe gitu deh bukan KOK GITU SIH he..he.. ), pas malam Jum'at dengan berbekal data alamat anak asuh adiknya berangkat ia dengan menggendong anaknya menuju anak asuh yang pertama " Assalamu'alaikum.. maaf bu apa benar ini rumahnya fulan1 yang menjadi anak asuh Masjid Darussalam, Waa'laikumsalam ya benar, maaf bu ada titipan dari Masjid Darussalam begitu juga dengan anak asuh yang kedua, menurut pandangan orang tuanya oh.. orang suruhan dari Masjid, Padahal itu uang pribadinya.

Sang abang berbohong demi menjaga keikhlasannya

Wassalamu'alaikum wrb

Read More......
Diposkan oleh Nursani Ahmad on Thursday, November 12, 2009

Penulis: Adian Husaini

Perang Salib dimulai pada 1095. Pada 50 tahun pertama, Pasukan Salib berhasil mendominasi peperangan. Kekuatan kaum Muslim porak-poranda. Sebagian jantung negeri Islam, seperti Syria dan Palestina ditaklukkan. Ratusan ribu kaum Muslim dibantai. Pasukan Salib yang memasuki Jerusalem (1099) kemudian melakukan pembantaian besar-besaran terhadap penduduk Kota Suci itu. Di Masjid al-Aqsha terdapat genangan darah setinggi mata kaki, karena banyaknya kaum Muslimin yang dibantai. Fulcher of Chartress menyatakan, bahwa darah begitu banyak tertumpah, sehingga membanjir setinggi mata kaki: “If you had been there your feet would have been stained to the ankles in the blood of the slain.”

Seorang tentara Salib menulis dalam Gesta Francorum, bagaimana perlakuan tentara Salib terhadap kaum Muslim dan penduduk Jerusalem lainnya, dengan menyatakan, bahwa belum pernah seorang menyaksikan atau mendengar pembantaian terhadap ‘kaum pagan’ yang dibakar dalam tumpukan manusia seperti piramid dan hanya Tuhan yang tahu berapa jumlah mereka yang dibantai: “No one has ever seen or heard of such a slaughter of pagans, for they were burned on pyres like pyramid, and no one save God alone knows how many there were.” (David R. Blanks and Michael Frassetto (ed), Western Views of Islam in Medieval and Early Modern Europe, (New York, St. Martin’s Press, 1999).


Begitu dahsyatnya pembantaian terhadap kaum Muslim ketika itu. Karena itulah, banyak yang kemudian mempertanyakan sikap dan posisi al-Ghazali dalam Perang Salib dan juga konsepsinya tentang jihad, dalam makna qital (perang) melawan musuh yang jelas-jelas sudah menduduki negeri Muslim. Sebagai contoh, Robert Irwin, dalam artikelnya berjudul “Muslim responses to the Crusades” (1997), menyebutkan, bahwa meskipun al-Ghazali sempat berkunjung ke berbagai tempat suci Islam, termasuk Masjid al-Aqsha pada tahun 1096, tetapi ia tidak pernah menyebut tentang masalah pasukan Salib dalam berbagai tulisannya.

Tidak diragukan lagi, sebagai seorang tokoh dalam mazhab Syafii, al-Ghazali memahami kewajiban jihad melawan kaum penjajah. Dalam pandangan ulama mazhab Syafi’i, jihad adalah fardhu kifayah, dengan perkecualian jika penjajah sudah memasuki wilayah kaum Muslim, maka status jihad menjadi fard al- ‘ain. Pakar Fiqih Islam, WahbaÍ al-Zuhayliy mencatat: “Jihad adalah fardu kifayah. Maknanya, jihad diwajibkan kepada semua orang yang mampu dalam jihad. Tetapi, jika sebagian sudah menjalankannya, maka kewajiban itu gugur buat yang lain. Tetapi, jika musuh sudah memasuki negeri Muslim, maka jihad menjadi fardu ain, kewajiban untuk setiap individu Muslim.” (Wahbah al-Zuhayliy, al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu, (Damascus: Dar al-Fikr, 1997).

Memang, beberapa cendekiawan ada yang kemudian mengkritik keras sikap al-Ghazali dalam soal Crusade. Dalam disertasi doktornya, Dr. Zaki Mubarak menyalahkan kecenderungan al-Ghazali terhadap sufisme sebagai sebab utama mengapa al-Ghazali tidak memainkan peran dalam jihad melawan pasukan Salib. Ia menulis: “Al-Ghazali telah tenggelam dalam khalwatnya, dan didominasi oleh wirid-wiridnya. Ia tidak memahami kewajibannya untuk menyerukan jihad.” Dalam bukunya, Abu Hamid al-Ghazali wa al-Tashawuf, ‘Abd al-Rahman Dimashqiyyah juga menyalahkan sufisme al-Ghazali. Dr. Yusuf al-Qaradhawi menyebut bahwa posisi al-Ghazali dalam Perang Salib masih dipertanyakan (puzzling). Tentang posisi al-Ghazali, Qaradhawi menulis, bahwa “hanya Allah yang tahu fakta dan alasan Imam al-Ghazali.” (Yusuf al-Qaradhawi, Al-Imam al-Ghazali Bayn Madihihi wa Naqidihi (Al-Mansurah: Dar al-Wafa’, 1988).

Posisi al-Ghazali

Adalah menarik, bahwa dalam karya terbesarnya, IÍya’ ‘Ulum al-Din, al-Ghazali justru menekankan pentingnya jihad al-nafs. Walaupun tidak menempatkan satu bab khusus tentang jihad dalam Ihya’, al-Ghazali menekankan pentingnya jihad bagi kaum Muslim. Ia mengutip sejumlah ayat al-Quran yang menyebu tentang kewajiban jihad bagi kaum Muslim, seperti firman Allah SWT: “Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk.” (QS al-Nisa:95).

Dalam bab al-Amr bi al-Ma‘ruf wa an-nahyu ‘an al-Munkar al-Ghazali menyebutkan sejumlah hadits atau atsar (perkataan sahabat Nabi) tentang jihad. Dalam bab ini, al-Ghazali juga menekankan, bahwa aktivitas amar ma’ruf dan nahi munkar, adalah yang menentukan hidup-matinya umat Islam. Dalam karya-karyanya yang lain, al-Ghazali telah banyak menjelaskan makna jihad dalam arti perang, seperti dalam al-Wajiz fi Fiqh Madzhab al-Imam as-Shafi‘iy.

Ini dapat disimpulkan bahwa sebagai pakar fiqh, al-Ghazali sangat memahami kewajiban jihad, dan ia telah banyak menulis tentang hal ini. Wahbah az-Zuhayliy menyebutkan, menurut ulama ash-Shafi‘iyyah, jihad adalah perang melawan kaum kafir untuk menolong Islam. (huwa qital al-kuffar li nushrah al-Islam. Mengutip hadith Rasulullah saw, “Jahid al-mushrikina bi amwalikum wa anfusikum wa alsinatikum”, al-Zuhayliy menyebutkan definisi jihad: “Jihad adalah mengerahkan segenap kemampuan untuk memerangi kaum kafir dan berjuang melawan mereka dengan jiwa, harta, dan lisan mereka.

Posisi al-Ghazali dalam soal jihad melawan pasukan Salib menjadi jelas jika menelaah Kitab al-Jihad yang ditulis oleh Syekh Ali b. Thahir al-Sulami an-Nahwi (1039-1106), seorang imam bermazhab Shafi‘i dari Damaskus. Ia adalah seorang yang aktif menggalang jihad melawan pasukan Salib melalui pertemuan-pertemuan umum pada 1105 (498 H), enam tahun setelah penaklukan Jerusalem oleh pasukan Salib. Adalah sangat mungkin al-Sulami berguru kepada al-Ghazali di Masjid Ummayad, sebab Ali al-Sulami adalah imam di Masjid tersebut dan al-Ghazali juga sempat tinggal di tempat yang sama pada awal-awal periode Perang Salib.

Dalam Kitabnya itu, Ali al-Sulami mencatat, bahwa satu-satunya solusi yang dapat menyelamatkan wilayah-wilayah Muslim, adalah menyeru kaum Muslim kepada jihad. Ada dua kondisi yang harus disiapkan sebelumnya. Pertama, “reformasi moral” untuk mengakhiri “degradasi spiritual” kaum Muslim ketika itu. Invasi pasukan Salib harus dilihat sebagai hukuman Allah, sebagai peringatan agar kaum Muslim bersatu. Kekalahan Muslim, menurut al-Sulami, adalah sebagai hukuman Allah atas kealpaan menjalankan kewajiban agama, dan di atas semua itu, adalah kealpaan menjalankan jihad. Tahap kedua, penggalangan kekuatan Islam untuk mengakhiri kelemahan kaum Muslim yang telah memungkinkan pasukan Salib menguasai negeri-negeri Islam. Dalam kitabnya, al-Sulami menyebutkan dengan jelas tentang situasi saat itu dan stretagi untuk mengalahkan pasukan Salib.

Konsep al-Sulami dalam melawan pasukan Salib berupa “reformasi moral” dari al-Ghazali’s memainkan peran penting. Sebab, menurut al-Sulami, melakukan jihad melawan pasukan Salib akan hampa jika tidak didahului dengan jihad melawan hawa nafsu. Ia juga mengimbau agar pemimpin-pemimpin Muslim memimpin jalan ini. Dengan demikian, perjuangan melawan hawa nafsu, adalah prasyarat mutlak sebelum melakukan perang melawan pasukan Salib.

Dalam naskah Kitab al-Jihad yang diringkas oleh Niall Christie, al-Sulami mengutip ucapan Imam al-Syafii dan al-Ghazali tentang jihad. Diantaranya, al-Ghazali menyatakan, bahwa jihad adalah fardu kifayah. Jika satu kelompok yang berjuang melawan musuh sudah mencukupi, maka mereka dapat berjuang keras melawan musuh. Tetapi, jika kelompok itu lemah dan tidak memadai untuk menghadapi musuh dan menghapuskan kejahatannya, maka kewajiban jihad itu dibebankan kepada negeri terdekat, seperti Syria, misalnya. Jika musuh menyerang salah satu kota di Syria, dan penduduk di kota itu tidak mencukupi untuk menghadapinya, maka adalah kewajiban bagi seluruh kota di Syria untuk mengirimkan penduduknya untuk berperang melawan penjajah sampai jumlahnya memadai. (Dikutip dari “A Translation of Extracts from the Kitab al-Jihad of 'Ali ibn Tahir Al-Sulami (d. 1106)” oleh Niall Christie. http://www.arts.cornell.edu/prh3/447/texts/Sulami.html.).

Jihad bil-ilmi

Jadi, al-Ghazali bukan tidak peduli dengan Perang Salib. Tetapi, kondisi moral dan keilmuan umat Islam yang sangat parah menyebabkan, seruan jihad tidak banyak mendapatkan sambutan. Karena itulah, para ulama seperti al-Ghazali berusaha menyembuhkan penyakit umat secara mendasar. Caranya, dengan mengajarkan keilmuan yang benar. Ilmu yang benar akan mengantarkan pemiliknya kepada keyakinan, kecintaan pada ibadah, zuhud, dan jihad. Ilmu yang rusak akan menghasilkan ilmuwan dan manusia yang rusak, yang cinta dunia dan pasti enggan berjihad di jalan Allah. Itulah mengapa Kitab Ihya’ Ulumiddin diawali pembahasannya dengan bab tentang ilmu (Kitabul Ilmi).

Langkah al-Ghazali ini perlu direnungkan dengan serius. Ketika umat Islam mengalami krisis dalam berbagai bidang kehidupan, al-Ghazali melakukan upaya penyembuhan secara mendasar. Sebab, sumber dari segala sumber kebaikan dan kerusakan adalah “hati/aqal”. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat mudghah. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Dan jika dia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Itulah al-qalb.” (HR Muslim).

Memperbaiki hati manusia haruslah dengan ilmu dan pendidikan yang benar. Karena itu, menyebarnya paham-paham yang merusak iman harus dihadapi dengan serius. Abu Harits al-Hasbi al-Atsari dalam kata pengantarnya untuk buku Ibnul Qayyim al-Jauziyah yang berjudul Al-Ilmu menjelaskan, bahwa Allah telah menurunkan “Kitab” dan “Besi” sebagai sarana untuk tegaknya agama Allah. “Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (Keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (supaya mereka mempergukan besi) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS al-Hadid: 25).

Di masa hidupnya, al-Ghazali telah melakukan berbagai usaha yang sungguh-sungguh untuk mengajarkan ilmu yang benar. Lebih dari itu, al-Ghazali juga memberikan keteladanan hidup. Meskipun ia berilmu tinggi dan mendapatkan peluang besar untuk hidup mewah dengan ilmunya, tetapi ia justru memilih tinggal di kampungnya, di Thus. Di sanalah al-Ghazali mendirikan satu pesantren, membina para santrinya dengan ilmu dan keteladanan hidup yang tinggi. Dari upaya para ulama seperti al-Ghazali inilah kemudian lahir satu generasi yang hebat, yaitu generasi Shalahuddin al-Ayyubi. Bukan hanya seorang Shalahuddin, tetapi satu generasi Shalahuddin, yang pada 1187 berhasil memimpin pembebasan Kota Suci Jerusalem dari cengekaraman Pasukan Salib.

Read More......
Diposkan oleh Nursani Ahmad on Wednesday, November 11, 2009

Baasyir: Pakai Sistem Islam, Tak Ada Penzaliman

Perkara klasik yang melanda negeri ini seperti korupsi, penilepan, penyelewangan wewenang, akibat tidak menggunakan cara Islam, ujar Abubakar Ba’asyir

Hidayatullah.com--Jika aliran sungai kotor, membersihkannya agar kembali jernih harus membereskan dulu sumber kotoran yang membiasi sungai tersebut. Demikian istilah yang diungkapkan Pengasuh Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Solo, Ustadz Abu Bakar Baasyir, menanggapi sistem penegakan hukum di Indonesia belakangan ini.

Baasyir menilai, terjadinya banyak tindak penyelewangan yang dilakukan orang-orang yang tak bertanggung merugikan negeri ini, akibat tidak terterapkannya sistem hukum yang jelas dan menyeluruh.

"Selama menolak sistem Islam sebagai aturan negara, mustahil persoalan-persoalan tersebut bisa selesai. Makanya, pemerintah jangan menolak sistem Islam diterapkan," kata Ustdaz Baasyir kepada www.hidayatullah.com Rabu (11/11).

Pernyataan Baasyir tersebut terkait terus mengulurnya perkara yang kini terus menghangat, yakni dugaan mafia hukum yang dilakukan mafioso ulung yang rentan merugikan negara.

Belum lama ini, pejabat yang diduga terlibat dalam kasus tersebut sempat menangis menitikkan air mata di persidangan disaksikan oleh khalayak.

Juga beberapa waktu lalu, mantan pejabat yang dituding menjadi tersangka kasus pembunuhan, juga tampak terisak di sorotan layar kaca. Sebabnya sama, merasa dizalimi oleh pihak lain.

Menurut Baasir, menangisnya itu bisa saja karena khawatir, dizalimi, atau ada faktor lain.

"Jika menggunakan hukum Islam, tak ada penyelewangan dan hukum seperti itu. Ini karena salah sistemnya," tukas dia. [ain/www.hidayatullah.com]

Read More......
Comments
Diposkan oleh Nursani Ahmad on Wednesday, November 11, 2009

Assalam ( Anak Asuh DaarussaLam )


Profil Anak Asuh DaarussaLam

Assalam merupakan program khusus Masjid Jami’ Daarussalam untuk memberikan pelayanan kepada Yatim dan Dhu’afa dalam bidang pendidikan. Sebuah upaya memberikan Pelayanan terbaik untuk meningkatkan kualitas pendidikan pelajar dari keluarga miskin (Excelent cervice). Konsep anak asuh dengan kegiatan yang kreatif dan positif yang dilaksanakan secara komprehenship untuk membentuk kepribadian pelajar sehingga mampu lebih mengenal, mencintai dan mengamalkan ajaran Islam dengan baik dan benar. Meningkatkan rasa kebersamaan dan persaudaraan antar sesama pelajar dalam menjalin Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathoniyah (sesama warga negara) dan Ukhuwah Basyariyah (sesama manusia). Menfasilitasi pelajar dari keluarga miskin untuk mengembangkan potensi sehingga dapat membawa keluarganya keluar dari lilitan kemiskinan

Dasar Pemikiran

Al Qur’an

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).(QS. Luqman : 17) Tentang dunia dan akhirat. Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakalah: "Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu; dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al – Baqarah : 220)

Al Hadits

”Barangsiapa yang menghilangkan kesulitan saudara sesama muslim maka Allah akan menghilangkan kesulitannya di dunia dan di akhirat.” (Al-Hadits)

Kriteria Anak Asuh

1. Berasal dari keluarga dhuafa/yatim di utamakan
2. Laki-laki/Perempuan
3. Lulus/tamat SD atau sederajat
4. Memperoleh izin dari orang tua/wali
5. Memiliki prestasi akademik,dengan kreteria :
mendapat rangking 1-10 di kelas IV-VI
6. Berbadan sehat dan tidak memiliki penyakit menular
7. Bersedia mengikuti seluruh tahapan
8. seleksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku (sistem Gugur)

Syarat untuk menjadi Anak Asuh

1. Mengisi formulir yang disediakan
2. Foto copy KTP Orang tua/wali
3. Foto copy Kartu Keluarga
4. Pas Foto 3 x 4 sebanyak 3 lembar
5. Surat Keterangan Tidak Mampu dari Masjid
6. Surat Pernyataan orang tua Siap Mengikuti Pembinaan
7. Denah lokasi tempat tinggal


Sekretariat :

Masjid Jami' Daarussalaam. Jl.Pedurenan Masjid Raya No.36
Kelurahan Karet Kuningan - Kecamatan Setiabudi. Jakarta Selatan
Email : infoassalam@nursani.web.id/darussalam_online@yahoo.com
Telp.02194740983


Read More......
Diposkan oleh Nursani Ahmad on Tuesday, November 10, 2009

Jadi ikhlas Ngejalanin Hidup

Di tengah kesulitan kita, selalu terselip Pertolongan Allah. Di tengah kesulitan kita, selalu terselip Kemurahan Allah. Dan bila kitab sepakat, insya Allah bahkan kesulitan itulah anugerah Allah buat kita semua. Perjalanan waktu akan membuktikan itu. Andai kita lalui semua ragam kesulitan itu bersama Allah.

Saya termasuk yang percaya sedari awal, bahwa kalau kita mau berpikir tentang Kemurahan Allah, maka bener-bener Allah itu Maha Pemurah. Di tengah kesulitan kita, selalu terselip Pertolongan-Nya dan Kemurahan-Nya.

Sedikit berbagi. Ketika saya berada di pusaran kesulitan, Allah menganugerahkan saya kemampuan untuk menggoretkan ceritera kesulitan itu. Subhaanallaah, ia kemudian menjadi salah satu cahya bagi kehidupan saya. Saya akhirnya bisa menulis, dan tulisan itu pun akhirnya menjadi buku. Terbit dengan judul: Wisatahati Mencari Tuhan Yang Hilang. Agaknya, andai saya tidak mengalami kesusahan hidup, niscaya buku ini tidak lahir. Ketika itu saya merasa putus asa. Saya butuh teman.

Akhirnya saya ambil pena dan kertas. Benar-benar pena dan kertas. Oldies banget. Sebab emang ga ada fasilitas. Saat itu saya terpenjara dengan sel dunia. Ruang seukuran kurang lebih 2x3 menjadi kamar saya yang bagus untuk banyak merenung dan menulis hasil perenungan. Semula ia sebagai kawan saya. Akhirnya ia menjadi kawan banyak orang setelah jadi sebuah buku. Kebiasaan menulis ini di kemudian hari yang mengantarkan saya menulis buku-buku yang lainnya (lihat galeri, web admin). Hingga kemudian saya bisa menulis KuliahOnline ini.

Dan kebiasaan menulis ini bukan satu-satunya anugerah Allah yang Allah berikan bersama kesulitan. Sekali lagi, kalimat yang saya garis bawahi, dilihat ulang, dibaca ulang. Saya mengatakan “bersama kesulitan”, sebab memang nyatanya gara-gara mata kita yang butalah yang tidak bisa melihat Karunia Allah. Semua adalah Kehendak-Nya. Dan tidak ada Kehendak-Nya kecuali kehendak itu adalah kehendak yang baik-baik. Tidak pernah kehendak itu menjadi buruk hingga kemudian kita yang mewujudkannya menjadi buruk. Tidak pernah. Maka nya ketika di kemudian waktu saya menyadari bahwa akhirnya kesulitan itu mengantarkan saya menjadi “bisa menulis”, inilah yang saya anggap anugerah itu. Anugerah yang Allah berikan bersamaan datangnya dengan kesulitan yang Dia izinkan mampir di kehidupan saya. Saya percaya, peserta KuliahOnline juga banyak yang mengalami anugerah-anugerah seperti ini. Kesulitan akhirnya menjadi rahmat.

Disebut bukan satu-satunya, sebab buanyak sekali. Saya bisa sebut beberapa, sekedar untuk tahadduts bin-ni’mah: Buku-buku saya membawa saya menjadi ustadz. Berawal dari orang-orang meminta saya bercerita isi buku (bedah buku), dan pengajian-pengajian kecil, akhirnya kemudian orang-orang mengenal saya sebagai ustadz. Sebagai da’i. Saya pun mencatat bahwa sejarah saya menghafal alQur’an adalah sebab saya terpenjara. Rasanya, kalo saya tidak dipenjara, tidak akan ada itu cerita menghafalkan al Qur’an. Dan di kemudian hari, lahirlah Daarul Qur’an dan PPPA Daarul Qur’an. Daarul Qur’an adalah sebuah nama yang saya berikan untuk institusi pesantren penghafal al Qur’an.

Dan PPPA adalah suatu program donasi untuk pembibitan penghafal al Qur’an. Dan tentu saja beragam nikmat lain yang sangat-sangat tidak bisa saya sebut satu per satu; Saya menikah, dan ketemu dengan Maemunah, pun sebab berkah berada di dalam kesulitan. Ah, rasanya, tidak pantas saya menjadi yang tidak bersyukur.

Bila ada yang mengatakan, ah, itu kan si Yusuf Mansur. Pantes aja. Sebab dia kan pinter. Dia kan
‘alim. Dia kan turunan guru (sebutan untuk seorang Kyai, web admin). Dia kan lahir dan besar di
madrasah. Bisa ya, bisa tidak. Dikatakan ya, sebab saya juga menganalisis bahwa banyak piutang orang-orang tua saya, keluarga saya, guru-guru saya, di diri saya. Mereka rajin dan tulus mendoakan saya. Mereka insya Allah penuh mengharap saya selamat dan bisa menyelesaikan semua urusan-urusan saya, menjadi saleh, dan bisa dibanggakan keluarga. Dikatakan juga ya, bahwa keluarga dan turunan bisa berpengaruh, sebab amal ibadah yang dilakukan oleh orang-orang tua kita, dan saudara-saudara kita, khususnya yang serumah, memang insya Allah bisa ter-share itu cahya amal ibadahnya ke saya. Sebagaimana saya pernah sampaikan, bahwa kadang ada seorang anak yang dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan. Padahal selama kuliah, ia tiada menegakkan shalat. Ternyata, pertimbangan Allah, adalah ibadah ayah ibunya. Barangkali ini anak menyimpan sepasang orang tua yang masya Allah, rajin benar mendoakan anaknya ini. Maka kemudian turunlah Keputusan Allah, bahwa anak ini mendapatkan pekerjaan. Tapi bukan karena dirinya, melainkan karena doa ayah ibunya. Atau ada seorang suami yang banyak benar maksiatnya. Tapi kemudian ia tetap banyak mendapatkan berkah Allah. Ternyata si suami ini menyimpan istri yang sering merintih di hadapan Tuhannya, berdoa dengan tulus agar Allah jangan menghukum suaminya, dan menyayangi suaminya. Allah barangkali berkenan menjabah doa-doa yang begini ini.

Maka itu saya katakan, saya tidak menafikan peran “nasab”. Peran turunan. Tahadduts bin-ni’mah, saya lahir dari keturunan seorang kyai. Begitulah dongeng tentang Yusuf Mansur bermula. Menurut riwayat, ayah saya, Abdurrahman Mimbar, lahir dari garis seorang ulama di Kaliungu, KH. Zahid Mimbar, dan berlatar belakang keluarga pesantren. Satu tahun yang lalu saya pernah berkunjung ke keluarga pesantren Kaliungu. Ada pesantren besar, salaf, PIK namanya di sana. Masya Allah, ribuan santrinya. Dari garis ibu, pun lahir dari garis keturunan KHM. Mansur. Seorang ulama betawi tempo doeloe. Namanya dijadikan nama jalan sepanjang jalan Jembatan Lima, membentang di antara Roxy mengarah ke Stasiun Beos, Kota. Sedari lahir, saya sudah berada di tengah-tengah madrasah terkenal di kalangan betawi; Madrasah al Mansuriyah, Jembatan Lima Jakarta Barat. Ayah kandung saya bercerai dengan ibu saya ketika saya masih di dalam kandungan.

Ketika saya lahir, saya diasuh oleh paman saya, KH. Sanusi Hasan. Seorang hafidz al Qur’an dan seorang penulis di berbagai majalah dan koran Islam saat itu. Beliau pegawai negeri (Depag) yang sangat-sangat jujur. Tercatat dua kali diamanahkan sebagai Pimpro Pengadaan al Qur’an dan ta’mir Masjid Istiqlal. Agaknya, perjalanan jalan hidup saya sekarang-sekarang ini banyak berpengaruh dari rizki halal yang saya makan dari beliau. Saya kemudian menjadi penghafal al Qur’an, banyak mengelola al Qur’an, senang di masjid, dan kemudian menjadi penulis. Banyak sifat-sifat beliau yang saya rasakan menurun ke saya. Di usia saya 5 tahun, ibu saya menikah lagi. Lagi-lagi dengan orang saleh nan penyabar. Ayah tiri saya, Hermawan, juga pegawai negeri yang teramat jujur dan penyabar. Sama seperti paman saya, ayah tiri saya hidup sangat-sangat sederhana. Alhamdulillah, saya dapat tambahan rizki dan pengasuhan dari kedua orang ini. Hidup saya lebih banyak dihabiskan di madrasah, di pengajian, dan di masjid. Kelak, saya merasakan keberkahan ini semua.

Tapi masya Allah. Di saat yang sama, saya pun mengaminkan, bahwa semua yang disebut di atas, percuma. Malah tambah memberatkan saya. cerita di atas, biar ditambah dengan satu fakta, bahwa saya pun mendapatkan didikan agama sampe perguruan tinggi, boleh dikata, agak-agak “gak laku” ketika dibenturkan dengan masalah-masalah saya. Dengan status saya sebagai keturunan orang baikbaik, dan malah keturunan ulama, malah membuat saya makin terpojok. Semakin orang sinis, semakin orang memandang rendah saya. “Ga pantes dia mah jadi keturunan orang baik-baik”. Wuah, begitu dah kurang lebihnya.

Untuk lebih lengkapnya silahkan download versi cetaknya :

KDW0124 Seri 24 dari 41 seri/esai

Read More......
Comments

Search